RSS
Syndicate content

Pembuatan FERINSA (Fermentasi Urine Sapi)

Sumber Gambar: BPP Jatinom


Kesuburan tanah merupakan modal dasar usaha pertanian, oleh karena itu para petani merasakan akan pentingnya menjaga kesuburan tanah.  Kesuburan tanah memberikan korelasi yang positif terhadap hasil produksi yang diperoleh dalan kegiatan usaha tani. Apabila kesuburan tanah tak terjaga dengan baik hasil produksi akan menurun walaupun petani sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan tambahan pupuk kimia. Pemberian pupuk kimia yang tidak sesuai atau berlebihan akan memicu terjadinya perubahan-perubahan kondisi tanah, baik sifat fisik tanah ( tekstur tanah ) maupun sifat kimia tanah ( keasaman, kandungan unsur hara tanah ) dan lain-lain. Perubahan kondisi tanah baik fisik maupu kimiawi inilah yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman sehingga mempengaruhi produksinya.
Peternakan sapi memiliki fungsi yang sangat luas, baik sebagai penghasil daging dan susu sebagai sumber protein hewani maupun hasil sampingnya berupa kotoran yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah. Berdasarkan bentuknya kotoran sapi memiliki dua bentuk yaitu  berupa limbah padat dan limbah cair  berupa urine sapi. Limbah padat maupun limbah cair memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung pengembangan pertanian organik.

Urine sapi sering menimbulkan masalah lingkungan karena menimbulkan bau yang tidak sedap. Namun setelah dilakukan sentuhan teknologi berupa peprosesan secara fermentasi urine sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pupuk ini sangat baik dalam pengembalian kesuburan tanah. Hasil fermentasi urine sapi dikenal dengan nama FERINSA (Fermentasi Urine Sapi). Dengan panggunaan Ferinsa, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan hingga 50 % untuk tahap pertama, dan tahap selanjutnya penggunaan pupuk kimia bisa dikurangi lebih besar lagi.

Ferinsa selain dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman, juga berfungsi untuk merubah sifat fisik tanah karena ferinsa banyak mengandung mikrobia yang dapat mengembalikan kesuburan tanah. Selain itu keunggulan Ferinsa ini merupakan pupuk organik cair yang sangat mudah diserap oleh akar tanaman.
Ada bermacam-macam cara atau formula pembuatan Ferinsa, hal ini tergantung dengan potensi/ketersediaan bahan lokal yang ada. Dalam informasi ini disajikan secara garis besar pembuatan ferinsa formulasi BPP Jatinom yang manfaatnya tidak kalah dengan formula yang lain.

BAHAN :1)Urine sapi 100 lt; 2). Isi Rumen Kambing dari 3 Ekor kambing; 3).Molase/Tetes tebu 5 lt; 4).Susu Skim 5 Kg; 5).Taoge (Kecambah) 10 kg; 6).Tomat 5 kg.

ALAT :1).Drum kapasitas 150 lt; 2).Ember; 3).Gayung; 4).Pengaduk dari kayu dengan panjang sekitar 2 m; 5).Jeligen; 6).Penumbuk/ Blender

CARA PEMBUATAN :
1.Campur dan aduk susu skim dengan Urin sapi sedikit demi sedikit hingga benar-benar larut (Larutan I )
2.Campur molase dengan Urine hingga larut(Campuran II )
3.Masukan Campuran I dan Campuran II kedalam Drum volume 150 Lt
4.Masukan isi rumen kedalam campuran didalam drum dan diaduk hingga rata (homogen)
5.Masukan seluruh sisa urine sapi yang ada
6.Tutup rapat drum tersebut dan diaduk 2 hari sekali dan biarkan hingga 1 minggu.
7.Setelah 1 minggu taoge dan tomat kita haluskan (diblender) , masukan pada ferinsa tersebut.
8.Biarkan selama 1 minggu sehingga proses fermentasi berjalan dengan sempurna, setelah fermentasi berlangsung selama 3 minggu (dari awal pembuatan)maka ferinsa siap untuk diaplikasikan.

CARA PENGGUNAAN (APLIKASI) :
Tanaman Padi dan jagung :
•Penyemprotan/pengkocoran pada pagi/sore hari
•Dilakukan 3X pada umur 1,3,5 minggu HST
•Dosis 25 lt untuk 1 musim tanam/Ha
•Tahap pemakaian pertama pupuk kimia bisa ditekan/dikurangi 50 %
•Tahab musim tanam berikutnya penekanan ditingkatkan menjadi 70 % dan seterusnya

Tanaman hortikultura :
•Penyemprotan/pengkocoran pada pagi/sore hari
•Dilakukan s/d 7 X pada umur 1,3,5,7.9,11,13 minggu HST
•Dosis 75 lt untuk 1 musim tanam/Ha
•Tahap pemakaian pertama pupuk kimia bisa ditekan/dikurangi 50 %
•Tahab musim tanam berikutnya penekanan ditingkatkan menjadi 70 % dan seterusnya

***Ingat penggunaan Ferinsa harus bersamaan dengan penggunaan pupuk organik/kompos agar lebih efektif. (widiyanti; sumber : BPP Jatinom)