RSS
Syndicate content

PEJANTAN SAPI UNTUK PETERNAK DI SULAWESI TENGGARA


Pemerintah  Pusat telah mencanangkan Program SwasembadaDaging Sapi 2010-2014,  dan PropinsiSulawesi Tenggara merupakan salah satu lokasi prioritas dari 20 lokasi prioritas di Indonesia,  yaitu sebagaipropinsi  prioritas Kawin Alam.

         Ternak sapi di Sulawesi Tenggaramerupakan salah satu komoditas  unggulanyang memang   memberikan kontribusi yangcukup memadai bagi pendapatan dan kesejahteraan petani peternak di pedesaan.Hampir sebagian Keluarga  tani   telah memeliharanya, dengan rata-rata pemilikanberkisar 2 - 3    ekor per KK tani 

         Cara umum pemeliharaan sapi yangdilakukan petani adalah dengan membiarkan ternak mencari pakan dan hidupbergerombol.  Ternyata  cara ini dapat menimbulkan  pengaruh yang kurang baik, yaitu   menyebabkan terjadinya kawin keluarga atauyang disebut Inbreeding. Pada perkawinan keluarga terjadi perkawinan antarkeluarga atau mungkin  induk denganpejantan yang masih ada hubungan keturunan yang sama. Telah banyak bukti bahwakawin keluarga akan memperbesar peluang kemungkinan menghasilkan keturunan/anakdengan tampilan produksi yang rendah, meskipun induk dan pejantannya mempunyaitampilan produksi yang tinggi.

         Oleh karena itu dalam  rangka memperbaiki mutu genetik sapi- sapipetani, pemerintah telah mengalokasikan kegiatan penyebaran ternak sapipejantan pada tahun 2011. Tujuan disebarkannya sapi pejantan adalah disampinguntuk memperbaiki mutu genetik ternak sapi, juga dimaksudkan untuk  meningkatkan produksi dan produktivitas sapi,khususnya sapi Bali di Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2011 pemerintah menyebar sebanyak 175 ekor pejantan diperuntukkan bagi 9(Sembilan) kabupaten yangterdiri dari 25 kecamatan atau sebanyak 35 Desa / kelompok.

        Calon penerima ternak sapi pejantandiwajibkan mempunyai  persiapan sebelummenerima ternak sapi pejantan, yaitu : peternak harus tergabung dalamkelompoktani, hal ini untuk mempermudah pelayanan baik kesehatan ternak,perkawinan ternak,pembinaan, serta pengawasannya. Calon penerima jugadiwajibkan menyiapkan kandang sebelum datang ternaknya, serta menanam HijauanPakan Ternak seperti Rumput Gajah, rumput Setaria, dll.     

         Pemeliharaan sapi pejantan padadasarnya hampir sama dengan pemeliharaan ternak sapi umumnya, Agar dapatmewujudkan fungsinya  secara baik, makasapi pejantan  perlu diberikan  exerciseatau latihan atau semacam olah raga ternak dengan cara melepaskan ternak atau digembalakan agar tubuh ternak sehatdan kuku baik sehingga tidak menghambat aktivitas perkawinan. Demikian jugabila tanduknya mengganggu perlu dilakukan pemotongan tanduk. Dan untukmemudahkan dalam pengelolaannya, maka sapi pejantan juga perlu dipasang cincinhidung atau keluh.  Pakan untuk sapipejantan sebaiknya mendapatkan perhatian yang lebih , selain diberikan hijauansecara cukup jumlah dan kualitasnya, juga perlu diberikan konsentrat, dansuplemen agar sapi jantan mempunyai kualitas semen yang baik dan menghasilkanketurunan yang baik pula.  

         Untuk memudahkan dalam penangananya,sapi pejantan sebaiknya dikandangkan, seperti misalnya untuk pemeriksaankesehatan, dan perkawinan alami. Sapi jantan idealnya dapat  digunakan sebagai pejantan, dimulai pada umur24 -29 bulan, yaitu ditandai dengan mulai intensifnya mengawini sapi-sapibetina, dan sapi pejntan dikatakan kurang produktif lagi bila sudah mencapaiumur 6-7  tahun.

        Calon penerima ternak diharapkan dapatmemelihara sapi pejantan dengan baik, dan tidak “pelit” untuk meminjamkan bagianggota kelompoktani yng tidak memiliki pejantan sesuai aturan kelompok yangberlaku. Pada saat ternak sudah  kurangproduktif lagi sebagai pejantan, maka peternak bersama kelompoknya   dapat menjual   dan membelikannya  kembali seekor pejantan untuk dipindahkankepada petani yang lain di dalam kelompok, sedangkan pemelihara akanmendapatkan keuntungan berupa selisih harga jual dengan harga beli  pejantan baru dan penyetoran untuk uang kaskelompok yang disepakati dalam kelompok.

      Dengan sapi pejantan, diharapkan dapatmeningkatkan produksi dan produktivitas sapi di Sulawesi Tenggara sehinggadapat mendukung pelaksanaan Program Swasembada Daging Sapi 2014, dan memberikanpemecahan masalah dalam memperbaiki genetik atau darah keturunan sapi , yangpada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petanipeternak  di Sulawesi Tenggara, semoga.(AryWidyastuti-Prov.Sultra)