RSS
Syndicate content

PANDUAN PENYELENGGARAAN SEKOLAH LAPANGAN IKLIM

I. PENGANTAR

Pertanian merupakan salah satu kegiatan manusia yang sangat tergantung pada iklim mulai dari perencanaan, operasi di lapangan dari penanaman sampai panen hinggá perdagangan. Didaerah tropis dengan suhu yang selalu hangat dan matahari bersinar sepanjang tahun ketersediaan air lebih sering menjadi pembatas pertumbuhan tanaman. Berbeda dengan unsur lahan lainnya yang relatif stabil, iklim terus berubah secara dinamis sehingga perlu dapat diperkirakan jauh lebih awal kemungkinan ketersediaan air kedepan. Dengan pengalaman yang turun menurun dari generasi kegenerasi petani membangun pemahaman tentang iklim dan mengaitkan dengan tanda yang mudah terlihat disekitarnya.
Informasi iklim baru dapat dimanfaatkan oleh petani hanya jika difahami dengan baik dan diterima tepat waktu.   Informasi yang kurang difahami maupun diterima terlambat meski difahami akan tidak berguna.   Karena itu perlu usaha-usaha untuk membangun pemahaman iklim oleh masyarakat  petani seperti melalui sekolah lapangan iklim. Akhir-akhir ini telah banyak sekolah lapangan iklim yang diselenggarakan, namun karena sebagian besar diselenggarakan seperti sekolah atau kursus konvensional umumnya menjadi kurang efektif.   
Masyarakat luas terutama petani sudah terbiasa dari pengalaman yang panjang dengan keragaman iklim yang terjadi antar dan dalam musim maupun antar tahun sehingga telah terbangun pemahaman yang baik dan kearifan dalam menghadapinya.  Karena itu banyak pertanda-pertanda alam disekelilingnya yang berkaitan dengan iklim baik awal musim maupun sifatnya telah dijadikan petunjuk dini dalam melakukan budidaya pertanian.  Tetapi pemahaman tentang perubahan iklim berjalan dengan sangat lambat.
Perubahan iklim baru dapat teramati dalam rentang waktu yang sangat panjang, yang bisa ratusan malah ribuan tahun.  Harapan hidup manusia yang umumnya kurang dari seratus tahun, malah di negara berkembang hanya sekitar 60 tahun menyulitkan manusia untuk dapat mengapresiasi perubahan iklim dengan baik.  Perubahan iklim diperkirakan akan membuat keragaman iklim yang biasa dihadapi setiap musim, tahun ataupun periode yang lebih panjang akan semakin sering terjadi dengan intensitas meningkat dan daerah yang terkena dampak semakin luas.
Kalau dalam menghadapi keragaman iklim antisipasi dapat dilakukan secara proaktif untuk mengurangi resiko kerugian yang diakibatkan. Tetapi untuk menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya antisipasi.  Karena anomali iklim akibat perubahan iklim akan terjadi lebih sering dan lebih parah, juga diperlukan usaha-usaha adaptasi sehingga resiko yang lebih besar dapat dihindari.  Secara kolektif dan dalam skala yang lebih besar dan luas diperlukan usaha mitigasi untuk dapat mengekang pengaruh buruk perubahan iklim.
Sekolah lapangan iklim diharapkan  dapat: (a) meningkatkan kemampuan petani dalam mengidentifikasi indikator anomali dan perubahan iklim, (b) mengembangkan sikap kritis dalam mengambil keputusan dalam pengelolaan sumberdaya untuk mengurangi dampak buruk iklim, (c) mengembangkan prinsip ilmu pengetahuan dalam pengelolaan sumberdaya lokal, dan (d) membangun kembali kearifan lokal serta nilai kemandirian masyarakat.
Tujuan :
Tujuan peyelenggaraan Sekolah lapangan (SL) adalah membangun kemampuan masyarakat pada umumnya dan masyarakat tani khususnya dalam melakukan antisipasi dan adaptasi perubahan iklim, sertra melakukan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan.

Tujuan peyelenggaraan Sekolah lapangan (SL) adalah membangun kemampuan masyarakat pada umumnya dan masyarakat tani khususnya dalam melakukan antisipasi dan mitigasi perubahan iklim, sertra melakukan adaptasi terhadap dampak yang ditimbulkan.

Tujuan khusus meliputi hal-hal sebagai berikut :
Meningkatkan kemampuan petani dalam hal Identifikasi indikator yang bersifat antisipatif terhadap variasi dan perubahan iklim yang berdampak terhadap sumber-sumber mata pencaharian petani.
Meningkatkan sikap kritis petani dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut pengelolaan agro-ekosistem yang terkait dengan upaya-upaya antisipasi, mitigasi dan adaptasi terhadap variasi peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim
Mengembangkan prinsip-prinsip sains petani  untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, pengelolaan potensi lokal dan mendorong  upaya pemecahan masalah yang disebabkan oleh variasi dan perubahan iklim
Membangun kembali kearifan lokal dan dinamika nilai-nilai kemandirian masyarakat termasuk kreatifitas yang diperlukan dalam menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh variasi dan perubahan iklim.

Prinsip Dasar Sekolah lapangan Iklim (SLI)

Wilayah agro-ekosistem dan sosial budaya (socio-culture) merupakan sarana belajar utama peserta.
Cara belajar lewat pengalaman dan mengembangkan sistem aksi dan refleksi
Tempat belajar diruang terbuka dan dekat dengan lahan praktek
mengembangkan perencanaan dari bawah ( waktu, peserta dan materi seluruhnya ditentukan bersama antara peserta dan fasilitator/pemandu latihan)
Dalam SL tidak ada guru dan murid yang ada adalah warga belajar, dan kegiatan dipandu oleh 1 atau 2 orang fasilitator, yang berfungsi sebagai pelayan dan pelancar aktivitas belajar peserta atas pengalaman mereka sendiri.
Pelaksanaan kegiatan SL terbagi atas 3 tahap : Perencanaan melalui penelusuran mata rantai perikehidupan masyarakat (Sustainable Livelihood Asessment), pelaksanaan (aksi) dan FFD (untuk mendapatkan dukungan dalam kegiatan tindak lanjut baik masyarakat lainnya maupun fihak terkait)
Jumlah peserta dalam 1 SL adalah antara 20 - 25 orang, komposisi peserta perempuan dan laki-laki disesuaikan dengan hasil analisis peran perempuan dan laki-laki dalam hal pengelolaan agro-ekosistem , namun demikian untuk memberikan peran yang besar kepada perempuan makin baik jika peserta terdiri dari laki dan perempuan masing-masing 50 %
Dalam satu putaran SL terdiri dari 20 kali pertemuan: 6 kali pertemuan adalah perencanaan (SLA) dan 14 kali pertemuan untuk kegiatan tindak lanjut .

   II. Garis Besar Kurikulum Sekolah lapangan: Adaptasi dan Antisipasi Petani Terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup manusia, Indonesia adalah salah satu negara yang mulai merasakan dampak perubahan tersebut, karena sebagian besar mata pencaharian  (livelihood ) masyarakat indonesia ada pada sektor pertanian dan sektor pertanian dengan komoditas padi adalah tanaman yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Dari sudut pandang iklim wilayah Indonesia terbagi dalam beberapa kategori yang hampir semuanya tidak menguntungkan. Misalnya bagian timur Indonesia seperti NTT, NTB, bagian timur Pulau Jawa, bagian selatan Sulawesi bagian selatan sering mengalami musim kering yang panjang karena terpengaruh oleh pola cuaca di Australia, suatu situasi yang diperburuk oleh El Nino Southern Oscillation (ENSO), yang menciptakan keragaman cuaca dan curah hujan yang tajam,  sebagian besar wilayah NTT musim kering berlangsung anatara 7 – 8 bulan setiap tahunnya, ditambah dengan musim hujan yang susah diramal, misalnya pada tahun 2007 jumlah curah hujan menurun 50 % dari tahun sebelumnya (CARE, Maret 2007), Sementara bagian Barat Indonesia,  keragaman hujan juga dipengaruhi oleh Indian Ocean Dipole Mode (IODM), Jika kita lihat secara keseluruhan Indonesia sebagai kepulauan di tropis diapit oleh dua benua dan dua Samudera Indonesia memiliki keragaman hujan antar musim (MONSOON), dalam musim (MJO), antar tahun (ENSO)

Dampak perubahan iklim sudah mulai terjadi dan telah mendapatkan perhatian dari berbagai fihak. Namun demikian bagi petani dan masyarakat di pedesaan masih jadi tanda tanya besar. Pada umumnya yang terjadi dimasyarakat pedesaan, sering turun hujan terlambat, dan ketika datang curah hujan maka jumlahnya lebih besar dari biasa tetapi jumlah hari hujannya lebih pendek.

Informasi iklim dan ramalan datangnya curah hujan sangat sering tidak cocok dengan ramalan,  dibeberapa tempat petani mulai belajar menyesuaikan walau upaya ini harus dibayar mahal karena harus berulangkali menanam dan jatuh bangun dari kegagalan.

Pada umumnya kearifan lokal di masyarakat pedesaan yang terjadi di berbagai tempat sudah mulai ditinggalkan, pembelajaran tutur dari nenek moyang sudah di tinggalkan, karena semua ini terpengaruh oleh  teknologi dan cara berpikir instan; belajar dari kejadian alam sudah tidak lagi dipedomani. Padahal pengetahuan nenek moyang, yang lebih akrab dengan alam, lebih mempertimbangkan kelestarian alam, dan karena lebih mematuhi hukum-hukum alam. Oleh karena itu tampaknya kita perlu kembali mempelajari pengetahuan itu, yang sebenarnya dilestarikan secara turun temurun, namun tidak banyak lagi dipraktekkan.   Namun demikian dari keadaan serba tidak berkepastian itu masih ada titik cerah dari pengalaman belajar orang tua yaitu sebuah pengetahuan yang dilestarikan dan dipedomani sebagai bahan belajar orang banyak.

Fenomena alam dan hubungannya dengan sifat hujan masih dipedomani di Desa Batu Nampar NTB diantaranya adalah sebagai berikut :
Tumbuk (Satu fenomena alam matahari berada tegak lurus di atas katulistiwa yang ditandai dengan tidak ada bayangan pada siang hari)
Bau Nyale (Peristiwa alam munculnya cacing laut secara periodik setiap tahun pada bulan ke-10 penanggalan Sasak, terjadi di wilayah pantai Selatan pulau Lombok.)
Ngempok Waras ( Pertanda akhir musim kemarau dan awal musim penghujan)
Sifat gelombang serta sifat dan arah angin ( Ombak bergemuruh dari arah Barat Daya, akan turun hujan dan Ombak bergemuruh dari arah, Timur/Tenggara, hujan akan berhenti, Angin bertiup dari arah Barat Daya (September – November), akan turun hujan, dst)

Sementara pengalaman petani di Desa Tunjungan Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora petani belajar dari pengetahuan tutur nenek moyang mereka.

Beberapa informasi pranata mangsa yang dapat dihimpun terkait dengan permulaan musim tanam, seperti ; populasi burung terik, munculnya bintang luku besar, munculnya rumah kepiting di persawahan, munculnya populasi semut merah dan perubahan arah angin. Sementara pranatamangsa terkait dengan musim kemarau panjang adalah ; lebatnya buah mangga jenis keong, pohon duwet berbuah dengan lebat, perubahan arah angin menuju ke barat, munculnya kabut di pagi hari dan banyak capung beterbangan

Pengetahuan lokal tersebut sudah saatnya distrukturkan kembali agar bermanfaat untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Melalui pelatihan yang partisipatif bagi masyarakat dan mempraktekan pengalaman berstruktur sehingga pengalaman tersebut menjadi bahan pengambilan keputusan pengelolaan usaha tani dan ekosistem Untuk tujuan tersebut maka diperlukan kurikulum yang bersifat dinamis dan disusun  bersama oleh warga belajar.

III.  Membangun Kerangka Kurikulum

Kerangka kurikulum SL Iklim dibangun berdasarkan wilayah belajar yang merupakan muatan kurikulum yang diperlukan untuk mengatasi masalah variasi dan perubahan iklim yang terdiri dari kegiatan-kegiatan: Antisipasi, Adaptasi dan Mitigasi. Gambar berikut menunjukan hubungan keterkaitan antara muatan kurikulum:

    

Penyusunan Kurikulum dilakukan  dengan Kriteria sebagai berikut:
Elemen kurikulum digali bersama; materi yang akan dipelajari  dengan menggunakan kerangka tersebut diatas digali bersama oleh para petani
Manfaatkan potensi penuh  yang ada setempat, baik potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam
Jika ada masukan dari Luar dianggap sebagai upaya  fasilitasi berbagai kemampuan yang ada setempat
·    Kegiatan dan pertemuan dilaksanakan di lapangan dengan contoh-contoh permasalahan yang ada setempat

Ada tiga domain (wilayah) belajar masyarakat dalam memahami dan mengatasi dampak perubahan iklim yaitu domain Antisipasi, domain Adaptasi dan domain Mitigasi, tiga wilayah belajar tersebut adalah satu kesatuan.

Antisipasi adalah upaya melakukan prediksi gejala keragaman dan perubahan iklim. Pembelajaran yang bersifat antisipatif meliputi hal-hal sebagai berikut.
Lakukan identifikasi berbagai  indikator yang telah diketahui masyarakat setempat. Indikator yang dipelajari dapat berupa perubahan fisiologis tanaman, perubahan perangai hewan/binatang, dan  tanda-tanda alam seperti arus laut, awan, dll.
Pelajari apa saja makna indikator-indikator tersebut yang diketahui oleh masyarakat setempat.
Adakan aktualisasi indikator yang ada, dengan  melakukan pengukuran pengukuran sehingga penggunaan  indikator dapat dimengerti khalayak lebih luas. Contoh, kalau indikator tertentu merefleksikan musim kemarau yang panjang maka perlu diadakan pencatatan seberapa panjang musim kemarau yang diramalkan.
Selanjutnya pelajari data data historis yang ada  yang menyangkut keragaman iklim dan hubungkan dengan petunjuk petunjuk yang berasal dari kearifan lokal.

Antisipasi merupakan  wilayah belajar peserta / masyarakat  dalam memahami gejala alam yang telah diberi makna oleh leluhur dan dipraktekan dalam waktu lama, dan telah menjadi pedoman dalam bertani dan proses menjalankan livelihood masyarakat lokal. Indikator yang dapat diamati oleh masyarakat dalam memahami perubahan-perubahan alam yang berubungan dengan elemen iklim adalah :
·    Tanaman / Fisiologi tanaman
·    Air  Laut
·    Burung
·    Cacing di tanah
·    Aktivitas Serangga
·    bunyi benda mati diseputar rumah karena tekanan suhu panas
 
Hasil penelusuran indikator tersebut kemudian distrukturkan kembali sebagai bahan rancangan kegiatan aktualisasi (praktek pengukuran) dengan demikian dapat diukur secara ilmiah, misalnya hubungan Mangsa Kaso ( 3 Juni - 2 Agustus)= “Kadya Sesotya Murca Saka Embanan”  dalam mangsa ini diyakini bahwa musim kemarau dan terjadi kesulitan air, pohon meranggas dan daun berguguran. Petani mulai berkebun di ladangnya dan menanam palawija, kacang,  jagung dan ubi. Dalam prakteknya petani melakukan pengamatan apakah terjadi seperti dalam pranata mangsa tersebut atau tidak.

Adaptasi adalah suatu respons terhadap stimulus iklim dan akibatnya baik yang sifatnya antisipatif maupun yang bersifat reaktif  yang dapat mereduksi dampak  negatif ataupun yang dapat memberi peluang-peluang yang menguntungkan. Kegiatan-kegiatan adaptif antisipatif misalnya perubahan pola tanam dalam mengantisipasi musim kemarau yang panjang.

Kegiatan adaptif reaktif misalnya penanaman kembali setelah banjir. Oleh karena itu perlu dilakukan  identifikasi kegiatan kegiatan apa saja yang pernah dilakukan baik yang bersifat adaptif antisipatif dan adaptif reaktif dan pelajari keberhasilan atau kegagalan yang pernah terjadi dalam diskusi kelompok dilapangan.

Pelajari  faktor-faktor apa yang dijadikan pertimbangan dalam membuat keputusan tentang kegiatan adaptif tertentu. Bahas bersama apakah faktor-faktor yang dipertimbangkan dan proses pengambilan keputusan dapat diperbaiki dalam menghadapi keragaman dan perubahan iklim dimasa yang akan datang.

Adaptasi, adalah wilayah belajar peserta/ masyarakat dalam penyesuaian diri terhadap perubahan, contoh kegiatan adaptasi adalah sebagai berikut :
Melakukan kajian / studi memajukan atau memundurkan waktu tanam
Menggati tanaman disesuaikan dengan ketersediaan air
Melakukan kajian tanaman hemat air
Melakukan kajian studi mulsa untuk daerah kering
Melakukan kajian tanam padi hemat air
Melakukan kajian fungsi bahan organik sebagai pengikat air dalam tanah
Melakukan kajian keanekaragam tanaman yang mempunyai karakter toleran terhadap kekeringan dan genangan air yang dalam
Pengelolaan biodiversitas: pertanian, agroforestry, hutan; nursery dan tree planting; pengelolaan komposisi tanaman berdasarkan pertimbangan  ekonomi dan ekologi

Mitigasi adalah kegiatan kegiatan yang dilakukan bersama sama dalam skala yang luas yang dapat mereduksi gas rumah kaca dan yang dapat memulihkan kerusakan sumber daya alam.  Kegiatan kegiatan yang dilakukan dapat berupa mobilisasi sumber daya manusia untuk  melaksanakan gerakan penghijauan atau kegiatan kegiatan yang sudah melembaga misalnya melakukan gotong royong memperbaiki saluran, perbaikan resapan air, water harvesting (embung, danau dan dam parit), tenologi mitigasi (varietas padi rendah emisi, pengelolaan air yaitu intermitten, penggunaan pupuk anorganik dengan dosis yang tepat), dll. Hal ini dilakukan pada skala lebih luas dari pada    kegiatan individu.

Kurikulum dibuat dengan menerjemahkan 3 kerangka(Antisipasi, Adaptasi, Mitigasi) dibicarakan dengan petugas dinas/PPL dan petani di lapangan. Yang diuji di lapangan adalah kelayakan kerangka kurikulum dan muatan materi yang dapat digali bersama sama dengan petani
   
Mitigasi, merupakan wilayah belajar peserta/masyarakat dalam lingkup luas, dan merupakan upaya-upaya kolektif dalam sebuah kawasan tertentu, antara lain :

Masyarakat belajar tentang menumbuhkan kembali semangat kearifan lokal
belajar membangun kelembagaan masyarakat yang terkait kearah lokal
Riset aksi masyarakat untuk memperbaiki lingkungan lokal
riset aksi masyarakat untuk perbaikan cachment area dalam arti merehabilitasi lahan, melakukan penghijauan dll.
riset aksi masyarakat untuk membangun water harvesting melalui embung
Riset aksi masyarakat untuk menerapkan teknologi mitigasi.
Merancang dan menerapkan ”TATA RUANG dan PERATURAN LOKAL” untuk menciptakan iklim lokal yang kondusif untuk livelihoods.

Wilayah belajar tersebut diatas merupakan wilayah belajar utama, untuk itu maka dalam prakteknya masih diperlukan materi tambahan yaitu materi pendukung misalnya materi teknis yang berhubungan dengan masalah livelihood masyarakat.  

IV. Membangun Dasar Materi Pembelajaran

Aspek antisipasi, adaptasi dan mitigasi dalam menghadapi anomali dan perubahan iklim perlu ditanamkan pada petani dengan membangun materi pembelajaran sekolah lapangan.  Materi pembelajaran harus digali dan disusun bersama petani dengan sebanyak mungkin memanfaatkan potensi lokal. Jika ada bahan masukan dari luar harus dikaji bersama dan dipakai sebagai bahan pengkayaan.  Pembelajaan sedapat mungkin dilakukan di lapangan, atau tempat terbuka dimana para petani biasa bekerja bukan tempat yang dibatasi tembok. Dengan demikian petani dapat melihat, mengamati dan merasakan perkembangan yang terjadi di lapangan yang selama ini kurang diperhatikan.

Pendekatan proses belajar masyarakat tentang dampak perubahan iklim yang cocok adalah melalui proses Pendidikan Orang Dewasa (POD),  dengan ciri-ciri pokok sebagai berikut :

Belajar dari realitas atau pengalaman

      Belajar dari pengalaman artinya yang dipelajari bukanlah teori yang tidak ada kaitannya dengan realitas dan kebutuhan; melainkan berangkat dari realitas dan kebutuhan. Konsep teori dipakai untuk membantu dalam menganalisa realitas dan kebutuhan. Konsekuensinya, tidak ada otoritas pengetahuan seseorang lebih tinggi dari yang lainnya. Keabsahan pengetahuan seseorang ditentukan oleh pembuktiannya dalam realitas tindakan nyata atau pengalaman langsung  bukan pada retorika teoritik atau “kepentingan omong”nya.   Dalam prakteknya dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut :

PROSES BELAJAR

                                                dan seterusnya.......
                                 (ulang proses yang sama)                                        
                                                (1)

                (1) Melakukan            
                                             (4)                 
                                                         (2)

 Menyimpulkan (4)                           (2) Mengungkapkan        (3)
                                
                    

                              Menganalisis (3)

        aksi-1          refleksi-1         aksi-2        refleksi-2    dst....

     2. Tidak Menggurui
Karena itu tidak ada guru dan tidak ada murid yang digurui, semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan ini adalah guru sekaligus murid pada saat bersamaan. Keduanya sama-sama mencurahkan perhatian pada obyek yang sedang dikaji

      3. Diagnosis
Karena tidak ada lagi guru atau murid, maka proses yang berlangsung bukan lagi proses “meng-ajar-belajar yang bersifat satu arah, tetapi proses “komunikasi” dalam berbagai bentuk kegiatan (diskusi kelompok, diskusi pleno, bermain peran, dsb) dan media (peraga, grafika, audio-visual,dsb) yang lebih memungkinkan terjadinya dialog kritis antara semua orang yang terlibat dalam proses belajar.

Atas dasar pemaham teori diatas maka proses penyusunan kurikulum Sekolah lapangan Antisipasi dan Adaptasi perubahan iklim, disusun atas dasar beberapa prinsip.:
Proses bukan dalam ruangan (class room), melainkan pada lahan usaha tani
sarana belajar utama adalah indikator perubahan alam yang berhubungan dengan perubahan unsur iklim yang terjadi pada wilayah agro-ekosistem dan sosial budaya (social culture).
Cara belajar lewat pengalaman petani dan tokoh masyarakat
 Elemen kurikulum digali dan disusun bersama antara masyarakat dan pemandu latihan
Manfaatkan potensi sumber daya dan unsur agro-ekosistem setempat
masukan informasi dan teknologi dari luar merupakan sebagai bahan kajian peserta belajar
Topik belajar utama  adalah wilayah antisipasi, wilayah adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim
jumlah peserta belajar dalam satu kelompok belajar antara 20 – 25 orang peserta

Peningkatan Penyadaran Petani (awareness  rising)

Proses pembelajaran hanya bisa dimulai jika ada kesadaran (awareness). Kesadaran akan menimbulkan keingin tahuan (curiousity)  yang mendorong petani untuk mengamati atau bertanya.  Dengan adanya pengetahuan petani, baru mungkin terjadi perubahan sikap (attitude).  Perubahan sikap ini yang diharapkan akan mendorong petani berkeinginan meningkatkan keterampilan (skill). Apabila keterampilan telah meningkat tentu dapat memberikan harapan-harapan baru untuk berkembang (aspiration).  Semua ini tentu akan dapat mendorong petani untuk ikut berpartisipasi sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan bersama.

Salah satu kegiatan penting dalam aplikasi kurikulum adalah membangun penyadaran bagi masyarakat tentang dampak perubahan iklim, yang behubungan dengan livelihood masyarakat pedesaan,  alat diskusi tersebut adalah :

  -  Pertanyaan  misalnya: Apakah benar terjadi perubahan iklim di desa kita ?; apakah benar intensitas terjadinya kekeringan semakin meningkat ?

- Analisis tata ruang desa, dengan topik bahasan biodiversity, permasalahan, natural resources, potensi yang dapat dikembangkan, dll yang berhubungan dengan perubahan iklim
-  Analisis trend waktu musim hujan, musim kemarau dan waktu tanam minimal selama 10 tahun
    
-  Analisis musiman dan dampak perubahan iklim terhadap livelihod masyarakat :
Kondisi pertanian, peternakan, perikanan, agroforestry, produksi NTFP dll..
Penyakit manusia, penyakit ternak, tanaman, ikan, dsb
Hilangnya sumber-sumber mata pencaharian

 - Analisis praktik-praktik kehidupan sehari-hari dan budidaya tanaman yang   menyumbang terhadap perubahan iklim
 -    Analis Aset dan sumber daya lokal
 -   Menyiapkan rencana
    
Analisis praktek-praktek adaptasi terhadap perubahan iklim yang sudah di laksanakan disebuah desa dimana program dilaksanakan

V. AKTUALISASI PEMBELAJARAN

Pranatamangsa
Perubahan iklim musiman yang dikendalikan oleh posisi bumi terhadap matahari oleh masyarakat agraris telah difahami dan dipakai sebagai patokan dalam budidaya pertanian di Pulau Jawa.   Dalam pranatamangsa, musim (mangsa) dibagi dalam 4 periode (rendheng, mareng, ketigo, labuh) yang mulai bertepatan dengan  posisi matahari ekstrim.  Kalendar solar ini konon dimulai oleh Sultan Agung pada tahun  1633 dan disempurnakan Sultan Paku Buwana VII.  Musim dimulai dengan awal masa tanam yang disebut rendheng atau ngijih di Jawa Barat.  Musim ini dimulai pada saat posisi matahari berada paling selatan di Tropics of Capricorn (21/22 Desember) biasanya berlangsung sekitar 95 hari dan dibagi menjadi bulan ke 7-9 (kapitu, kawolu, kasanga).  Agak menarik jika dilihat kalau musim diawali dengan awal tanam tetapi bulan malah pada saat bera (tidak bertanam).  Ada kemungkinan pengurutan yang berbeda ini berkaitan dengan pemakaian kalender lunar yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan yang dipakai pada masa Mataram Islam dan budidaya pertanian yang erat berkaitan dengan kalender solar.
    Musim kedua dan keempat mareng dan labuh atau karena masih berpeluang mendapatkan air hujan di wilayah yang relatif basah masih memungkinkan untuk bertanam.   Wilayah ini banyak terdapat terutama dibagian barat Pulau Jawa atau disekitar pegunungan.  Mangsa ini biasanya berlangsung lebih pendek yaitu sekitar 86 hari.  Sedangkan diluar aspek budidaya tanaman kedua mangsa ini juga disebut masa pancaroba dan sering terjadi banyak penyakit.  Saat ini dimulai bertepatan ketika matahari berada di khatulistiwa (21/22 Maret dan 21/22 September).  Angin yang sering berubah arah karena angin orografis lebih dominan dibanding dengan angin meredional yang sangat lemah bisa jadi membuat peningkatan atau akumulasi penyakit sehingga mudah menular.
Ketika matahari di posisi paling utara di Tropics of Cancer (21/22 Juni), belahan bumi utara menjadi lebih panas dan bertekanan rendah sehingga angin akan bertiup ke utara meliwati  daratan Australia.   Musim ini disebut mangsa Ketiga atau Katiga yang dibagi dalam bulan Kapitu, Kawolu dan Kasanga.  Karena meliwati daratan yang luas dan kering angin ini sedikit sekali membawa uap air sehingga di selatan khatulistiwa bagian tenggara Indonesia mengalami musim kemarau.   Pada musim ini karena air kurang dan lengas udara kering sehingga sering terjadi kebakaran dan apabila paceklik banyak terjadi kejahatan.

Pertanda Iklim
Berbagai pertanda alam di sekeliling kita dapat menjadi pertanda keadaan cuaca maupun menjadi gejala akan terjadinya perubahan cuaca.  Ada tanda-tanda yang dapat diperhatikan di lapangan seperti tanaman, hewan maupun alam yang lebih luas seperti bentang alam, laut maupun angkasa.  Tetapi barang yang tidak bergerak (immobile) seperti tanaman umumnya bereaksi setelah merasakan perubahan cuaca sehingga akan terlambat jika dipergunakan sebagai petunjuk dini. Demikian juga halnya dengan hewan-hewan lokal yang tidak bermigrasi jauh seperti semut, kepiting maupun cacing bereaksi untuk menghindari keadaan yang tidak nyaman di habitat asalnya.  Lain halnya dengan hewan yang dapat terbang seperti burung maupun kupu-kupu Monarch yang bolak balik bermigrasi dari Kanada ke Meksiko menghindari musim dingin.  
Sedangkan tanda-tanda di langit ada yang lebih dekat seperti awan yang masih berada dalam troposfer dan yang sangat jauh seperti konstalasi perbintangan.  Awan pada ketinggian sekitar 2 km atau lebih rendah mudah terlihat dan sangat berpotensi membawa hujan sekiranya tidak tertiup angin kearah yang berbeda.  Keberadaan awan yang lebih tinggi banyak dipergunakan sebagai pertanda dalam berbagai aktifitas kehidupan manusia, tetapi belum banyak berkembang atau terdokumentasi dengan baik.  Dalam aspek cuaca keberadaan awan cummulus nimbus  yang bertumpuk tinggi pada ketinggian diatas 10 km sering diperkirakan sebagai pemicu terjadinya angin puting beliung.
Konstalasi perbintangan menunjukkan posisi bumi terhadap matahari dan planet-planet lainnya ataupun posisi bulan terhadap bumi.  Karena planet mengitari matahari maupun bulan mengitari bumi dalam orbit yang tidak beradius tetap tetapi berbentuk elips sehingga ada posisi terjauh (apogee) maupun terdekat (perigee). Pada posisi perigee bumi terhadap matahari akan mendapatkan energi yang jauh lebih besar dibandingkan posisi apogee yang mungkin sekali berpengaruh pada suhu di permukaan bumi.  Demikian juga dengan posisi bulan terhadap bumi yang akan meningkatkan daya tariknya dan berpengaruh pada pasang surut air di pantai.   Semua perubahan ini terjadi secara teratur dan akan berulang kembali.  Karena jarak yang sangat jauh rata-rata 149,6 juta km antara bumi dan matahari akan sulit dirasakan tanpa menggunakan alat ukur dengan presisi tinggi.  Akan lebih sulit dibedakan pergeseran posisi bumi terhadap rasi-rasi bintang lainnya.   Sehingga yang sering teramati oleh petani di angkasi adalah keadaan yang berulang secara teratur dengan waktu yang relatif tetap.
Perubahan di atmosfer apalagi di troposfer yang dirasakan manusia lebih banyak terjadi karena kejadian yang berlangsung di bumi sendiri.   Seperti halnya meletusnya gunung Krakatau tahun 1895, karena mengeluarkan debu yang menutup bumi maka musim dingin menjadi lebih dingin di belahan bumi utara. Jauh sebelumnya lebih dahsyat lagi pada masa geologi Permian, terakhir atau ketujuh dari masa Paleozoic luapan lava basalt di Siberia menyebabkan punahnya banyak satwa di laut maupun di darat sekitar 250 sampai 300 juta tahun yang lalu.  Belum lama ini tahun 1992 letusan gunung Pinatubo di Filipina melepas banyak debu volkanik yang terbawa angin jet stream ke Midwest Amerika Serikat.  Hal ini menyebabkan terjadinya lebih banyak hujan disana.  Akhir-akhir ini kegiatan ekonomi manusia yang terus bertambah telah meningkatkan kadar gas rumah kaca terutama CO2 di atmosfer diperkirakan kuat sebagai penyebab utama perubahan iklim.
Pertanda yang lebih mudah teramati adalah di laut terutama untuk mereka yang tinggal di dekat pantai.   Laut di bumi juga terhubungkan satu dengan lainnya melalui selat-selat dan juga terusan yang dibuat manusia.  Air laut juga tidak homogen dan statis tetapi berlapis-lapis yang dibedakan oleh suhu dan salinitas serta bergerak baik secara  horisontal maupun vertikal.  Di samudera juga pertanda dini yang jauh lebih awal bisa diperoleh.  Karena perubahan suhu yang di udara bisa terjadi hanya dalam beberapa jam dalam masa air yang besar di samudera baru akan terjadi setelah berminggu atau berbulan.
Berlawanan dengan arah rotasi bumi arus air yang hangat dipermukaan samudera bergerak ke arah barat dari Pasifik ke Atlantik mengitari lebih dari separuh bumi meski dalam masa yang diperkirakan ribuan tahun.  Arus samudera ini sering juga disebut conveyor belt karena berbalik kembali melalui lapisan dibawahnya seperti ban berjalan.  Baik di samudera Pasifik maupun ketika di samudera Hindia arus samudera ini kadang melambat ataupun membalik ke arah timur sehingga memicu keragaman curah hujan antar tahun yang tajam di berbagai penjuru dunia.
Dengan landasan pengetahuan tentang fenomena iklim ini, pertanda alam yang bisa terjadi secara lokal, regional maupun global akan dapat digali dan dikaji bersama dengan petani dalam sekolah lapangan. Telah banyak pertanda lokal yang telah berkembang di masyarakat petani yang sebagian besar belum terdokumentasi secara baik.   Dalam sekolah lapangan iklim akan diusahakan untuk  mendapatkan lebih banyak indigenous knowledge untuk dikaji bersama, dirasionalisasikan dan didokumentasi sehingga tida hilang ditelan waktu.
    
Aktualisasi adalah sebuah proses belajar masyarakat dalam hal pengukuran indikator perubahan dan Pranata Mangsa, dalam prosesnya dipraktekan berdasarkan pemahaman bersama, pemandu bertindak membantu peserta/masyarakat dalam hal indentifikasi proses pengukuran dan pengambilan kesimpulan. Berikut ini contoh hasil analisis aktualisasi terhadap indikator bulan sasak di NTB, sebagai berikut :

  Proses aktualisasi di tingkat petani peserta SL dapat dilakukan secara sederhana pada berbagai indikator, melalui tabel sebagai berikut :

a.  Pengukuran Indikator Perubahan (contoh) : Pengukuran didasarkan pada asas relevansi (R) dan (konsistensi) antara kearifan lokal dan fakta variasi iklim dengan menggunakan alat-alat meteorologi seperti pengukur curah hujan, temperatur, kelembaban, pengukuran emisi GRK, dll. Dibahas dalam diskusi kelompok SLI

1.  Tanaman / Fisiologi Tanaman

 
No    Informasi    Indikator    Aktualisasi / Pengukuran       
1    Mangga keong dan duwet berbuah lebat

Tanaman-tanaman ini seperti juga jambu mete memang memerlukan kemarau yang jelas untuk merangsang pembuahan dan akan berbuah lebat jika kemarau panjang
    Pertanda Kemarau Panjang
    Pengukuran curah hujan        
2    ...............................................               
3    ...............................................               
4    ...........................................            

2.  Air Laut

 
No    Informasi    Indikator    Aktualisasi / Pengukuran       
1    Akan turun hujan    Ombak bergemuruh dari arah Barat Daya           
    hujan akan berhenti    Ombak bergemuruh dari arah Timur/Tenggara           
    akan turun hujan.    Angin bertiup dari arah Barat Daya (September – November)           
    menandakan tidak ada hujan    Angin bertiup keras dari Selatan atau disebut ”angin selabuh” atau ”angin balit” (Juni-September)           
    menandakan hujan akan segera berhenti.    Bila bertiup angin Timur atau disebut ”jana kebo”, menandakan hujan akan segera berhenti.
           
    terjadi angin kencang, biasanya akan diikuti oleh hujan yang lebat.    Bila dari tanggal 10 sampai dengan tanggal 20 (selama 10 hari) bulan ke-10 penanggalan Sasak atau sesudah ”bau nyale”        

3. Perilaku Binatang
 
No    Informasi    Indikator    Aktualisasi / Pengukuran       
1    Burung bermigrasi menghindari musim dingin dibelahan bumi utara yang bertepatan dengan awal musim penghujan di selatan khatulistiwa
    Pertanda Awal Musim Hujan
           
2    Kepiting dan semut di pesawahan
Hewan menghindari air yang berlebih pada musim penghujan sehingga menempati galangan
    Pertanda Awal Musim Hujan
           
3
    ..........................................    ……………………………        

b. Pengukuran Informasi Pranata Mangsa
 
No    Informasi    Keterangan Waktu    Aktualisasi / Pengukuran       
1    Petani biasanya menanam padi. Angin bertiup dari Barat dan tidak menentu dengan kekuatan tinggi. Banjir melanda daratan di balik gunung, lembah dan ngarai yang bermuara di sungai. Banyak muncul penyakit, baik endemi maupun epidemi. Wabah penyakit gampang terjangkit dari satu daerah ke daerah lain, oleh karena itu diberi candra “Wisa kentas ing maruta” yang artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah ”bisa tertiup angin”    Mangsa Kapitu (23 Desember-3 Februari) = ‘Wisa kentas ing maruta”
           
2    Sering terjadi hujan disertai dengan angin kencang melanda di berbagai tempat di Jawa. Angin datang dari Barat Daya menuju Timur Laut dengan kekuatan kencang. Hawa terasa dingin di malam hari, bahkan berembun. Keadaan sawah mulai menghijau, petani jagung sudah menuai hasilnya. Situasi malam begitu mencekam sehingga diberi candra  ”Hanjrah jroning kayun” yang artinya merana di dalam hati.    Mangsa Kawolu (4 Februari-1 Maret) = ”Hanjrah jroning kayun”
           
3    Bertepatan dengan datangnya musing penghujan, candranya ”Wedharing Wacana Mulya” yang artinya terbetiknya kabar bahagia. Hujan lebat yang disertai kilat, angin dan petir sering terjadi. Hawa siang, malam dan pagi terasa dingin bahkan berembun di daerah pegunungan. Angin berhembus dari arah Selatan dengan kekuatan kencang.Pada mangsa ini buah duku mulai panen, muncul pula jeruk manis, padi rebah pertanda bulirnya penuh berisi bahkan sebagian ada yang telah menguning. Oleh  karena itu kabar ini terdengar sebagai suatu berita bahagia bagi para petani  dan masyarakat umumnya.        Mangsa Kasanga (2 Maret-26 Maret) = ”Wedharing Wacana Mulya”
        
 
4    Angin kencang bertiup karena bertepatan dengan perubahan musim dari musim penghujan ke musim kemarau, sehingga candranya adalah  ”Gedhong Minep Jroning Kayun” yang artinya pintu gerbang sudah ditutup, disebut pula mangsa Mareng. Situasi alamnya dingin dan menyisakan hawa yang dingin. Angin berhembus kencang dari arah Tenggara. Hembusan angin ini terdengar kencang dan mendesau-desau hingga kadang merontokkan daun. Sawah terlihat bagai lautan emas dan petani mulai panen    Mangsa Kasadasa (27 Maret-19 April) = ”Gedhong Minep Jroning Kayun”
           
5    Mangsa ini jatuh pada musim kering atau kemarau, walau terkadang masih turun hujan tetapi sudah jarang sekali. Hawanya panas dan angin berhembus dari Tenggara ke arah Timur Laut, artinya hembusan angin membelok, sehingga berpengaruh terhadap gelombang laut dan bisa terjadi badai pasang. Petani menuai padi di sawah dan padi juga mulai panen.  
    Mangsa Desta (20 April-12 Mei) = ”Kadya sesotya sinara wedi”
           
6    Pada mangsa ini mulai terjadi kesulitan air, termasuk musim kemarau dimana hujan sudah tidak turun lagi. Angin berhembus dari Timur ke Barat dengan hembusan sepoi-sepoi basah. Hawa siang terasa panas tetapi di malam hari terasa sangat dingin. Merupakan musim panen jeruk keprok, nanas, alpukat dan buah asem. Panen padi di sawah hampir selesai. Sendang penampungan dari mata air mulai berkurang karena tidak ada hujan lagi.    Mangsa Saddha (13 Mei-2 Juni) = “Tirta sot Saka Sasana”
           
7    Masih musim kemarau dan terjadi kesulitan air, pohon meranggas dan daun berguguran. Petani mulai berkebun di ladangnya dan menanam palawija, kacang, jagung dan ubi.
    Mangsa Kaso (3 Juni-2 Agustus) = ”Kadya Sesotya Murca Saka Embanan”
           
8    Musim kemarau panjang membuat tanah retak, oleh karena itu muncul candra ”Bantala Rengka”, sawah kekeringan dan timbul kegersangan. Akan tetapi pohon randu dan mangga yang telah meranggas atau gundul mulai tampak bersemi kembali, sedangkan tanaman palawija banyak mendapatkan siraman yang tergantung dari pembagian air irigasi. Asalkan tidak terjadi kemarau panjang, maka pembagian air melalui irigasi akan mencukupi begitu pula air dari belik atau sendang, berguna pula untuk irigasi di desa-desa. Untuk itu pohon-pohon harus dipelihara dengan baik    Mangsa Karo (2 Agustus-25 Agustus) = ”Bantala rengka”           
9    Kemunculan mangsa ini ditandai dengan berhembusnya angin dari Utara ke Selatan dengan kekuatan sedang. Masih musim kemarau, hawanya panas, sedangkan air untuk keperluan pertanian menggunakan air sungai atau sumur untuk menyiram tanaman palawija dan sebagian mulai dipanen.
    Mangsa Katelu (26 Agustus-18 September) = ”Suta Manut ing Bapa”
        

 
10    Mulai memasuki musim penghujan dan mata air mulai ada isinya. Hawa siang terasa gersang dan angin bertiup dari arah Barat Laut menuju Tenggara dengan kekuatan sedang. Peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau disebut labuh.
    Mangsa Kapat (19 September-13Oktober) = ”Waspa Kumembeng Jroning Kalbu”
           
11    Mangsa ini berhawa sejuk karena langit diselimuti mendung, sering turun hujan bahkan curah hujan sering sangat lebat. Leluhur Jawa memberikan gambaran bahwa pada mangsa ini Allah memberikan anugerah sesuatu yang berharga emas, yang merupakan musim hujan.Turun hujan pada siang dan sore hari, kadangkala sangat lebat dan dapat menimbulkan banjir. Angin kadang sangat keras yang berhembus dari Barat Laut menuju Tenggara dengan kekuatan kencang disertai hujan lebat. Dengan datangnya musim hujan maka petani mulai menggarap sawahnya, hawa mulai dingin, pohon-pohon asam mulai meranggas, musim buah mangga segera dibarengi dengan munculnya lalat.    Mangsa Kalima (14 Oktober-9 November) = Pancuran Emas Semawur ing Jagad”
           
12    Candra Rasa Mulya Kesucian berarti mendapatkan kebahagiaan karena perbuatan baik. Mangsa ini masih merupakan musim penghujan, bahkan angin keras bertiup dari Barat ke Timur dengan suara yang bergemuruh. Hujan dan petir bersusulan dan hawanya dingin. Mangsa ini bertepatan dengan musim buah-buahan seperti mangga, durian, rambutan, dll. Sawah tadah hujan telah cukup mendapatkan air dan pada saat inilah peani mulai menyebar benih padi di persemaian.    Mangsa Kanem (10 November-22 Desember) = ”Rasa Mulya Kesucian”
        

c. Penaggalan Sasak

 
No    Informasi    Keterangan Waktu    Aktualisasi / Pengukuran       
1    periode musim hujan akan panjang dan merata, tetapi pada awalnya intensitas dan curah hujan rendah dan meningkat pada akhir periode. Petani tugal kering     fenomena alam matahari berada tegak lurus di atas katulistiwa yang ditandai dengan tidak ada bayangan pada siang hari
terjadi pada tgl 6  bulan ke 6 penaggalan sasak
(TUMBUK 6)           
2    intensitas hujan hanya sedang, tapi hujan langsung lebat.    (TUMBUK Tanggal 16)           
3    musim penghujan akan terlambat dengan intensitas dan curah hujan rendah, sifat hujan diperkirakan sangat eratik. Artinya hujan akan turun selama 2-3 hari, kemudian menghilang selama 7-10 hari atau bahkan lebih lama. Petani tugal basah setelah hujan rata.
    (TUMBUK Tanggal 26)         

 
4    Bila masih turun hujan pada “Nyale Tunggak” berarti musim hujan akan panjang
    BAU NYALE
Peristiwa alam munculnya cacing laut secara periodik setiap tahun pada bulan ke-10 penanggalan Sasak, terjadi di wilayah pantai Selatan pulau Lombok.
Periode “Bau Nyale” dapat berlangsung 1-2 hari atau > 20 hari
Bila > 20 hari terdapat “Nyale Tunggak” dan “Nyale Poto”
           
5    Pertanda akhir musim kemarau dan awal musim penghujan
Merupakan saat yang aman untuk tajuk (tugal) benih.
    NGEMPOK WARAS
Terjadi bulan ke-7 kalender sasak        

KETERANGAN :
Waktu terjadinya tumbuk dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :

 
Wilayah Belajar Peserta

Proses belajar peserta didasarkan kepada pendekatan pada wilayah keberadaan manusia sebagai mahluk sosial yang berbeda satu sama lainnya yakni wilayah pekerjaan (work), wilayah hubungan antar sesama (interaction) dan wilayah /Peran kekuasaan (power).

I. Wilayah Pekerjaan

Wilayah ini menyangkut masalah lingkungan secara teknis termasuk lingkungan sosial. Dari realitas petani berubungan erat dengan lingkungan setempat, yaitu tanah, tanaman, air, cuaca dengan segala perubahannya, serangga pengganggu tanaman, dll.  Dengan demikian maka beberapa kemungkinan yang kita bisa kembangkan untuk materi dalam domain ini adalah :

Memahami unsur Agroekosistem (fungsi matahari, tanah, air,  tanaman, organisme pemakan tanaman, organisme pemakan/pemangsa pemakan tanaman, mikroorganisme, bahan organik, dll)
Perubahan alam yang beruhubungan dengan praktek budidaya tanaman
Kegiatan budidaya tanaman sebagai sumber mata pencaharian dan kehidupan masyarakat, misalnya ; padi, jagung, kacang tanah, sayuran lokal, tebu, kebun campur dan hutan rakyat, seperti dalam photo berikut ini :

Memahami praktek budidaya tanaman yang efisien dan tidak mendorong terciptanya GRK yang lebih besar, seperti dalam Gambar berikut ini :
 

Pengembangan Potensi Lokal dan Pengelolaan Unsur Agro-ekosistem

II. Wilayah Hubungan Sesama Manusia (Sosial)

Membangun dinamika kelompok yang kuat (komunikasi, kerjasama, sikap kritis, pengembangan keterampilan dan pengembangan kelompok)
Mengajak peserta memahami makna nilai-nilai yang terkandung dalam ciri-ciri alam yang berhubungan dengan praktek pengambilan keputusan bersama dalam budidaya tanaman, seperti hasil diskusi Dr. Prihasto Setyanto dengan petani di Desa / Kec. Tununjungan Kab. Blora, sebagai berikut :

Beberapa informasi pranata mangsa yang dapat dihimpun terkait dengan permulaan musim tanam

Populasi burung terik yang mulai melakukan migrasi. Migrasi burung-burung ini merupakan indikasi bagi petani kapan mulai melakukan tanam padi dengan cara gogorancah.
Munculnya bintang luku besar (big dipper) disebelah utara juga merupakan satu indikasi musim tanam padi
Munculnya rumah kepiting di persawahan atau yang dikenal petani sebagai ”untuk yuyu” merupakan satu indikasi bahwa musim hujan sudah mulai dekat.
Munculnya populasi semut merah di lahan sawah juga sebagai satu indikasi bahwa hujan sebentar lagi akan turun.
Perubahan arah angin (angin dari barat) sebagai pertanda hujan

Pranatamangsa terkait dengan musim kemarau panjang

Lebatnya buah mangga jenis keong yang umum dikenal oleh masyarakat dianggap sebagai satu pertanda bahwa musim kemarau akan terjadi berkepanjangan.
Pohon duwet berbuah dengan lebat di pekarangan-pekarangan petani juga merupakan pertanda musim kemarau panjang akan muncul.
Perubahan arah angin menuju ke barat adalah pertanda bahwa musim kemarau akan tiba.
Munculnya kabut di pagi hari juga sebagai pertanda bahwa musim kemarau akan segera muncul
Banyak capung berterbangan sebagai pertanda bahwa musim hujan mulai dekat.

Memahami kesejarahan pertanian dan perubahan yang terjadi di desa dalam hal perubahan iklim
Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tanda-tanda perubahan dan membangun kerjasama dalam pengembangan pengetahuan lokal
Mengembangkan kembali kearifan lokal, seperti gotong royong, menjaga kelestarian sumberdaya alam (hutan, tanah dan air) dan memaknai upacara – upacara, dll  

III. Wilayah Peran / Kekuasaan (Power)

Dalam wilayah ini peserta diberikan peran yang lebih luas untuk mengembangkan proses belajar dan proses pengembangan program, sebagi berikut :

Menjadikan peserta SL sebagai subyek belajar.
Memfasilitasi komunikasi dan interaksi Banyak Pihak
Menggambar bersama ”Desa Impian – Iklim Impian” (impian tentang  IKLIM LOKAL yang kondusif untuk LIVELIHOODS LOKAL = intinya bukan semata-mata terletak pada iklim, tetapi iklim yang menjamin keberlangsungan livelihoods).
Memetakan ”PENATAAN DESA untuk menuju IKLIM IMPIAN”
Menganalisa dan mengidentifikasi:  SIAPA – BERPERAN APA – BAGAIMANA CARANYA
Menganalisa PERATURAN apa saja yang perlu ditetapkan untuk memperlancar upaya menuju Iklim Desa Impian
Menyusun dan menyepakati ”TATA RUANG DESA, PERATURAN DESA dan PEMBAGIAN PERAN / Rencana Kerja bersama

Kegiatan Harian Sekolah lapangan

Berdasarkan pada wilayah pengembangan belajar diatas maka kegiatan harian Sekolah lapangan adalah sebagai berikut :

Pengamatan Agroekosistem / perubahan alam yang terjadi/sosial budaya setempat
Diskusi kelompok
Presentasi dan Pengambilan keputusan
Dinamika kelompok
Topik khusus (materi yang berhubungan dengan pengelolaan indikator perubahan iklim teknis pertanian)
Evaluasi harian

Pemandu

Untuk  memfasilitasi kegiatan SL dilaksanakan oleh pemandu latihan berfungsi sebagai pelayan dan pelancar belajar atas pengalaman peserta sendiri.

Kemungkinan pemandu adalah memilih 2 orang peserta yang dipilih oleh kelompok untuk menjadi pemandu latihan dan 1 orang petugas yang telah mengikuti SL dan TOT .

Waktu Penyelenggaraan SLI

Sekolah lapangan dilaksanakan dalam 3 tahap kegiatan dengan jumlah pertemuan 20 kali pertemuan, dengan tahapan sebagai berikut : direncanakan selama 21 kali, dengan tahapan sebagai berikut :

1.    Perencanaan (SLA)  6 kali pertemuan
2.    Pelaksanaan SL/Aksi lapangan 14 kali pertemuan satu minggu sekali
3.    FFD 1 kali pertemuan

FFD

Pada akhir penyelenggaraan SLI dilaksanakan FFD, waktu pelaksanaan 1 hari, dalam kegiatan ini peserta dapat melakukan pameran meliputi : proses belajar, hasil-hasil kegiatan, dan inovasi  yang ditemukan selama SL, selain itu peserta melakukan presentasi dan dialog dengan para tamu undangan,  peserta yang hadir  kurang lebih 75 orang, terdiri dari masyarakat yang belum mengikuti SL, aparat setempat, desa, Kecamatan atau Kabupaten dan Lembaga penelitian setempat

Tindak Lanjut / Implementasi

Kegiatan tindak lanjut merupakan kegiatan lanjutan SL, materi yang dibahas dalam tindak lanjut akan bervariasi disetiap kelompoknya, tergantung prioritas yang mereka pilih, misalnya melakukan studi untuk pemuliaan tanaman untuk menghasilkan breeding objectives yang adaptif terhadap perubahan iklim, pengelolaan budidaya tanaman yang hemat air, pengelolaan bahan organik, atau studi-studi lanjutan untuk mengetahui indikator terhadap perubahan iklim.

Lampiran:
TRAINING OF TRAINERS CALON PEMANDU
SEKOLAH LAPANGAN ANTISIPASI DAN ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Pendahuluan

Menyikapi perubahan iklim tidak lepas dari pertanyaan apa yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi. Adaptasi memang seharusnya menjadi prioritas dalam mengambil kebijakan pembangunan nasional kedepan tidak hanya untuk sektor pertanian tetapi dari sektor lain yang secara langsung maupun tidak langsung akan terimbas oleh perubahan ini. Tetapi pengetahuan dan pemahaman terhadap sumber-sumber gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim dan bagaimana cara melakukan mitigasi harus juga sejajar dengan upaya adaptasi. Dengan pemahaman yang benar terhadap sumber GRK dan bagaimana cara melakukan mitigasi, paling tidak dapat memperlambat laju pemanasan global dapat dengan cara menghambat pelepasan karbon melalui sumbernya dan meningkatkan kapasitas rosot GRK dari lahan pertanian.
Upaya meningkatkan capacity building masyarakat petani kaitannya dengan adaptasi dapat dilakukan dengan cara memberdayakan petani dan memberikan pemahaman-pemahaman dasar tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan iklim. Salah satu upaya adaptasi tersebut adalah memberikan masukan pada petani melalui apa yang dewasa ini dikenal dengan Sekolah lapangan Iklim.

Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan pemandu lapangan SL, agar pemandu SL memahami karakter pendidikan orang dewasa dan memahami proses dan dampak perubahan iklim maka dipandang perlu menyelenggarakan TOT bagi Calon pemandu SL

2.  Tujuan  dan Keluaran

a. Tujuan :
Pelatihan untuk Pemandu (TOT) Sekolah lapangan Antisipasi dan Adaptasi Petani terhadap Perubahan Iklim, adalah sebagai berikut :
1)    Meningkatkan kemampuan peserta dalam hal kepemanduan yang didasarkan pada Pendidikan Orang Dewasa Kritis dan Belajar dari Pengalaman
2)    Meningkatkan kemampuan peserta dalam hal pengorganisian Sekolah lapangan Antisipasi, Adaptasi  dan Mitigasi Petani terhadap Perubahan Iklim
3)    Membangun pemahaman Petani dalam mengantisipasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim, melalui penyelenggaraan sekolah lapangan

b. Keluaran :
1) Meningkatnya kemampuan  petani pemandu dalam hal  kepemanduan  dan pengorganisasian sekolah lapangan
2)  Tersusunnya rencana pelaksanaan Sekolah Lapangan Antisipasi dan Adaptasi Petani terhadap Perubahan Iklim
3)   Tersusunnya kerangka acuan kurikulum SL oleh calon pemandu
 
3.  Waktu
TOT akan dilaksanakan selama 4 hari Efektif, mulai minggu ke 3 Agustus 2008, bertempat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Kabupaten Lombok Timur, nusa Tenggara Timur.

4. Pemandu
Untuk mengorganisir kegiatan TOT  akan dilakukan oleh Team Trainers dari Litbang Departemen Pertanian, Yayasan FIELD Indonesia dan lainya.

5. Peserta

Syarat peserta TOT Petugas yang pernah memandu SL atau Pemandu lapangan II  PHT, mereka sudah memiliki dasar-dasar penyelenggaraan SL dan memahami proses pendidikan orang dewasa memahami teknis kepemanduan, calon peserta dengan komposisi sebagai berikut ; 1 orang petugas dan 2 orang petani yang dipilih oleh anggota kelompok.

6. Materi TOT
Dari hasil assessment yang kami lakukan ada beberapa kelompok materi yang mungkin dapat mendukung TOT ini adalah sebagai berikut :

Materi : Pemanduan dan Dinamika Kelompok

Citra diri pemandu latihan
Keterampilan dasar seorang pemandu latihan
Sikap dan kemampuan dasar pemandu latihan
Falsafah & teori kepemanduan
Metodologi kepemanduan
Praktek memandu
Praktek menyusun panduan
Proses belajar ( Apa ini ?)
Dinamika kelomok
·    Kerjasama kelompok
·    Membangun kelompok
·    Kreatifitas
·    Komunikasi
·    Kepemimpinan

Aplikasi Kurikulum SL Iklim

Memfasilitasi penyusunan Aplikasi Kurikulum SL Iklim :
·    Antisipasi
·    Adaptasi
·    Mitigasi
·    Prinsip-prinsip dasar penyusunan kurikulum

SLA (Sustainable Livilihood Assessement)
Kerangka dasar pelaksanaan SL

C.  Materi yag berkaitan dengan Perubahan Iklim dan Topik khusus
iklim dan perubahan Iklim
Dampak Perubahan iklim terhadap jasa ekosistem
Perspektif ilmiah kearifan lokal
Membangun kemampuan antisipatif dan adaptif.
Membangun kemampuan mitigasi

7.  Daur Belajar

Kegiatan belajar peserta akan dilakukan dengan proses “Daur Belajar dari Pengalaman” ini merupakan proses belajar yang alamiah yang sengaja dituangkan dalam setiap kegiatan latihan. Adalah sebagai berikut :