RSS
Syndicate content

MENCARI BAHAN PANGAN ALTERNATIF SEBAGAI SUMBER KARBOHIDRAT SELAIN BERAS DI PULAU KALIMANTAN MENUJU INDONESIA SWA SEMBADA BERAS N

Sumber Gambar: BKP3 Berau



Pendahuluan

Pulau
Kalimantan sudah dikenal sejak lama mempunyai sumbar daya alam (SDA) yang
sangat besar. Dintara sumber daya alam tersebut adalah sumber hayati, misalnya
hutan. Termasuk di Propinsi Kalimantan Timur, 
yang pada umumnya dihuni oleh salah satunya penduduk asli suku Dayak.

Dilihat
dari sejarahnya, bahwa suku Dayak tersebut selalu melakukan hidup berpindah-pindah
tempat (nomaden) dari satu tempat ke tempat lain yang dirasa cocok untuk
melakukan berbagai macam kegiatan, di antaranya bercocok tanam. Di dalam
melakukan bercocok tanam, tentunya untuk memanen hasilnya harus menunggu sampai
tanaman tersebut bisa dipanen. Misalnya tanaman padi  harus menunggu kurang lebih 6 bulan sampai 8
bulan. Lamanya waktu tersebut, karena yang ditanam adalah padi ladang yang
varietasnya lokal sehingga umurnya panjang.

Selama
menunggu hasil panen tersebut, para penduduk suku Dayak melakukan kegiatan
untuk mendapatkan bahan makanan. Kegiatan tersebut antara lain berburu dan
mengambil buah hutan dan hasil hutan lain yang dapat dijadikan sebagai bahan
makanan. Tentunya bahan makanan yang tidak mengandung racun.  Bahan pangan tersebut ternyata salah satunya
dapat dimakan untuk makanan sela maupun makanan pokok sebagai pengganti nasi
sebelum ada beras atau untuk mengurangi jumlah konsumsi beras. Bahkan dapat
dibawa di dalam perjalanan sebagai bekal. Bahan pangan tersebut dikenal oleh
suku Dayak dengan nama “GINALANG atau DANGALANG (suku Dayak Berau) atau LEPPIU
(suku Dayak Bulungan). Untuk mengetahui bahan pangan Ginalang atau Dangalang
Atau Leppiu, di bawah ini akan disajikan secara sederhana (sepintas) mengenai
bahan pangan tersebut. Tulisan ini digali dari tokoh masyarakat suku Dayak (yaitu
bapak Saat) yang sekarang tinggal di kampung Lati Kecamatan Gunung Tabur
Kabupaten Berau.

Bentuk
biji/buah Ginalang

Buah
Ginalang/Dangalang/Leppiu bentuknya polong seperti buah kacang. Bentuk polong pipih
memenjang. Panjang polong antara 20 cm sampai 29 cm. lebarnya sekitar 4,5 cm
sampai  7 cm. Setiap buah atau polongnya
berisi antara 3 biji sampai 6 biji.

Biji
Ginalang termasuk buah “dicotil” karena bijinya berkeping dua. Kulit polong
jika sudah kering akan menggulung, tetapi jika direndam dalam air maka akan
kembali mekar seperti semula.
.

Biji
atau buah Ginalang berbentuk agak bundar pipih. Mirip seperti buah/biji
jengkol. Tetapi biji ginalang lebih kecil. Bijin jengkol bundar, biji Ginalang
kurang bundar dan biji jengkol lebih tebal dari pada biji Ginalang.   Diameter biji Ginalang, ukuran melebar sekitar
20 mm sampai 28 mm, memanjang antara 22 mm sampai 32 mm,  dan tebal antara 8 mm sampai        12 mm. Warna kulit biji/buah coklat
kehitaman. Aroma,  berbau buah.

        Tumbuhan/pohon Ginalang atau Dangalang atau
Leppiu

Tumbuhan
Ginalang masih tergolong tanaman hutan.  selama ini belum ada yang membudidayakan.
Ginalang biasanya tumbuh di hutan diantara pohon-pohon kayu. Sewaktu masih
kecil bisa tumbuh tegak, berdiri sendiri. Makin besar makin tumbuh cabang dan
daun, batangnya tidak mampu menopangnya. Oleh karena  itu tanaman ginalang menempel dan merambat
bersandar pada pohon kayu yang berada di dekatnya. Untuk mengetahui hal ini secara
sederhana dapat dilihat berikut ini :

a)     
Akar

Akar tanaman Ginalang termasuk akar tunggang. Hal ini
seperti dengan tanaman lain, yaitu bijinya yang berkeping dua. System perakaran
sama juga yaitu setelah biji berkecambah, maka biji terangkat ke atas lalu biji
terbelah, selanjutnya  tumbuh calon daun
daun pertama. Seterusnya akar menuju/ menunjang ke bawah dan batang menjulur ke
atas. Sedangkan  daun selanjutnya, terbentuk
daun ke dua dan seterusnya.

b)     
Batang

Batang tanaman Ginalang termasuk tumbuhan yang
berkayu. Batangnya tumbuh ke atas, sedangkan tumbuh ke samping atau diameter
batang hanya sebesar tangan orang dewasa yaitu sekitar 6 cm - 8  cm. oleh karena itu batang ginalang tidak
sanggup atau tidak mampu menopang daun dan buahnya. Sehingga batangnya menempel
dan merambat pada tanaman atau tumbuhan yang berada di dekatnya. Batangnya  jika direndam maka akan mengeluarkan cairan
berwarna hitam sehingga airnya berwarna hitam (Saat, 2013).

Jika besarnya batang berdiameter sekitar 6 cm - 8 cm,
tetapi tinggi batangnya setinggi batang yang menopangnya. Yaitu bisa mencapai
belasan meter. Dari keadaan batang yang demikian ini maka suku Dayak
memanfaatkan batang pohon ginalang untuk memanjat madu jika pohon kayu yang
dirambatinya atau disandarinya terdapat madu. Sehingga orang Berau ada juga
yang menamakan pohon Ginalang/Leppiu tersebut bernama Tali-talian.

Gambar : 
-    batang Ginalang (2 batang
Ginalang yang dilingkari merah).

-      
Bapak Saat (sebagai sumber informasi).

c)     
Daun

Daun ginalang agak unik, yaitu termasuk daun tunggal,
mempunyai tangkai daun. Uniknya adalah bahwa daun yang masih muda seperti dua
keping yang bertangkup berwarna merah jingga. Setelah tua daun mekar, daunnya
menyatu seperti terbelah dan berwarna hijau. Daun ginalang berada di batang
yang masih muda, berada di batang bagian atas.

d)     
Buah

Buah Ginalang dapat dipanen satu kali dalam satu
tahun. Musim buah Ginalang  biasanya
bersamaan dengan buah durian hutan. Hal ini bisa digunakan sebagai tanda bahwa
buah tersebut dapat dipanen.

Buah ginalang berbentuk polong seperti buah kacang.
Warna polong setelah tua berwarna hitam. Setiap polong berisi 3 biji sampai 6
biji. Buah berada pada batang bagian atas. 
Kulit polong jika sudah kering menggulung, tetapi jika direndam dengan
air maka akan mekar dan lurus kembali seperti semula.

Kandungan
gizi

Menyadari
akan pentingnya perwujudan ketahanan pangan dan gizi nasional sebagai salah
satu pilar ketahanan nasional dan wilayah, maka pada konferensi Dewan Ketahanan
Pangan Nasional tahun 2006 para Gubernur selaku ketua DKP Propinsi seluruh
Indonesia telah mencanangkan beberapa kesepakatan yang salah satunya adalah
untuk penyusunan suatu rencana menuju Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015.
Secara Nasional ketersediaan energy dan protein selama lima tahun terakhir
telah melampaui Angka Kecukupan Gizi (AKG) tingkat ketersediaan (2.200
kkal/kap/hr dan 57 gram protein/kap/hr) yang direkomendasikan oleh Widyakarya
Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII. Sedangkan rata-rata konsumsi energy dan
protein cenderung meningkat mendekati kebutuhan sebesar 2000 kkal/kap/hr, dan
pada tahun 2007 bahkan telah memenuhi angka kecukupan dengan rata-rata konsumsi
energy sebesar 2015 kkal/kap/hr atau 100.7% dari angka kecukupan energi   (Anonim, 2010).

Di
Kebupaten Berau khususnya kebutuhan beras belum bisa dicukupi oleh petani
setempat. Ketersediaan beras di Berau didatangkan dari Sulawesi dan Jawa, oleh
para pengusaha. Luasnya wilayah Kabupaten Berau jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk, ternyata masih menyimpan potensi jenis bahan makanan yang selama ini belum
pernah dipublikasikan. Bahan pangan tersebut diberi nama “GINALANG atau
DANGALANG (suku Dayak Berau) atau LEPPIU (suku Dayak Bulungan). Tetapi suku
Berau ada yang menyebutnya tanaman “TALI-TALIAN” karena dipergunakan untuk
membantu memanjat pohon pada batang yang disandarinya. Jenis  bahan pangan dari buah
“Ginalang/Dangalang/Leppiu/Tali-talian” tersebut ternyata  mempunyai kandungan gizi yang tidak kalah jika
dibanding dengan umbi-umbian dan serealia dan kacang-kacangan. Hal ini dapat
dilihat perbandingan kandungan gizi tersebut pada beberapa tabel berikut ini.

Table 01
: daftar nilai gizi bahan makanan dari umbi-umbian (Dalam 100 gram bagian yang
dapat dimakan).

No

Jenis umbi

Air (%)

Kalori (Kal)

Protein (g)

Lemak (g)

Hidrat arang (g)

Kalsium (mg)

Besi (mg)

1

Singkong segar

63

14

1,2

0,3

35

33

0,7

2

Singkong tepung (tapioca)

12

342

1,5

--

84

55

2,0

3

Talas

73

98

1,0

0,2

24

28

1,0

4

Ubi jalar kuning, mentah

69

123

1,8

0,7

28

45

0,7

5

Uwi, segar

75

101

2,0

0,2

20

45

1,8

6

Uwi tepung

18

317

3,5

0,3

75

20

10,0

Sumber :
Suhardjo, at all (1986).

Tabel 02 : daftar nilai gizi Biji Ginalang/Leppiu

No

Parameter Uji

Hasil Analisa (%)

1

Kadar air

20,15

2

Kadar abu

1,45

3

Lemak

3,26

4

Protein

7,05

5

Serat kasar

0,25

6

Karbohidrat

67,84

Sumber : Erlangga (Bahan dianalisa di Laboratorium
Kimia dan Mikrobiologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
Mulawarman Samarinda)

Dilihat dari kandungan tersebut bahwa biji Ginalang
mempunyai kandungan gizi terutama lemak dan protein yang lebih tinggi dari umbi-umbian,
dan kandungan karbohidrat lebih tinggi dari pada singkong segar, talas, ubi
jalar kuning mentah dan uwi segar.

Sedangkan jika dibanding dengan beras maka kandungan
protein biji Ginalang hampir sama, yaitu 7,6 gr (beras); 7,3 gr (beras giling)
setiap 100 gr, dan 7,05% 
(Ginalang).  Untuk kendungan lemak
lebih tinggi dari beras kecuali jagung, kedelai dan kacang tanah. Selanjutnya
dapat dilihat pada table berikut untuk kandungan gizi serealia dan
kacang-kacangan.

Tabel 03 : Komposisi Kimia serealia dan
kacang-kacangan

Komponen

Beras

Beras giling

Gandum merah

Jagung

Kacang

Kacang hijau

Kedelai gude

Kacang tanah

Energy (kal)

Protein (gr)

Lemak (gr)

Hidrat arang total

Serat (gr)

Abu (gr)

Kalsium (mg)

Fosfor (mg)

Besi (mg)

Karoten total (mg)

Vitamin A (SI)

Vitamin B (mg)

Vitamin C (mg)

Air (gr)

 

366

7,6

1,0

78,9

0,4

0,6

59

258

0,8

0

0

0,26

 

11,9

352

7,3

0,9

76,2

0,8

1,0

68

257

4,2

0

0

0,34

0

14,6

333

9,0

1,0

77,2

0,3

1,0

22

150

1,3

0

0

0,10

0

11,8

366

9,8

7,3

69,1

2,2

2,4

30

538

2,3

641

0

0,12

3

11,5

350

17,1

1,8

70,7

5,7

3,1

94

315

4,9

235

0

0,40

11

7,4

 

316

20,7

1,0

58,0

4,6

4,6

146

445

4,7

0

0

0,3

0

16,1

381

40,0

16,7

24,9

3,2

5,3

222

682

10

21

0

0,52

0

12,7

525

27,9

42,7

17,4

2,4

2,4

316

456

5,7

30

0

0,44

0

9,6

Sumber :
daftar komposisi bahan makanan dalam Tien R. Muchtadi, at al (2010).

Panen dan
pasca panen

Buah
ginalang selama ini belam ada yang dipanen secara langsung dipetik dari
pohonnya. Buah yang sudah tua biasanya pecah masih di atas. Dengan pecahnya
buah tersebut, maka bijinya berhamburan ke bawah. Hal ini jika diketahui
langsung dipungut kemudian dikumpulkan.

Buah
yang sudah terkumpul dapat digunakan sebagai bahan makanan. Supaya dapat
dimakan, buah ginalang cukup direbus. Waktu direbus buah ginalang bisa langsung
dengan kulitnya atau kulitnya dibuang/dikupas terlebih dahulu. Tetapi biasanya
orang Dayak merebus langsung bersama kulitnya karena untuk menguliti memerlukan
waktu yang lama. Supaya rasanya lebih nikmat, cukup ditambahkan garam
secukupnya. Waktu yang digunakan merebus sekitar 1 jam jika buah tidak dibuang
kulitnya. Jika kulitnya dibuang waktu merebus sampai matang cukup memerlukan
waktu setengah jam.

Setelah
direbus biji Ginalang siap untuk disajikan atau dimakan. Untuk mengkonsumsi
biji Ginalang/Leppiu caranya kulit biji dikupas lebih dahulu, kemudian bisa
langsung dimakan. Pangan adalah bahan yang dimakan guna memenuhi keperluan
tubuh untuk tumbuh, bekerja, dan perbaikan jaringan (Suhardjo at all, 1986). Swasembada
pangan adalah usaha memenuhi kebutuhan pangan sendiri dengan cara
membudidayakan tanaman pangan, seperti serealia (beras dan sejenisnya),
palawija, cassava (ubi-ubian), dan lain-lain (Kusnadi Mustadjab Hary dan
Santoso Ratno Dwi, 2000). Dengan demikian, dilihat dari kandungan gizinya, maka
biji ginalang seharusnya dapat digolongkan sebagai  bahan pangan alternative sumber karbohidrat
selain beras. Hal ini, jika dibudidayakan  
dapat mengurangi konsumsi beras sehingga dapat menunjang ketersediaan
pangan local.

Demikian
sepintas selayang pandang mengenai biji Ginalang atau Dangalang atau Leppiu
atau Tali-Talian. Harap dimaklumi bahwa informasi yang diterima penulis masih
sebatas yang dapat dibaca di atas. Untuk lebih sempurna penulisan tersebut kami
sangat mengharapkan informasi lebih lanjut bagi siapapun yang bersedia
memberikan informasinya yang benar-benar data dipertanggungjawabkan. Hal ini
sangat diharapkan karena buah/biji Ginalang sangat berpotensi sebagai bahan
pangan sumber kalori selain beras dan terigu. Dan yang lebih penting lagi bahwa
biji tersebut berasal dari pulau Kalimantan, jadi tanaman asli Indonesia.

Kesimpulan :

·        
Buah GINALANG
atau DANGALANG  atau LEPPIU dapat
direkomendasikan sebagai bahan makanan arternatif.

·        
Buah GINALANG
atau DANGALANG  atau LEPPIU bisa
dibudidayakan untuk menunjang program swa sembada pangan.

Saran :

·        
Supaya diadakan
penelitian mengenai budidaya tanaman Ginalang sehingga dapat dibudidayakan oleh
masyarakat luas.

·        
Buah ginalang
dianalisa di laboratorium pangan untuk mengetahui kandungan nutrisinya yang lebih
lengkap.

·        
Kepada yang terhormat
para pemulia tanaman, agar mengadakan pelepasan tanaman ginalang sebagai
tanaman yang berasal dari Indonesia (puplau Kalimantan) sebagai sumber bahan
makanan.

Bahan
bacaan

Anonym, 2010. Indonesia
Tahan Pangan dan Gizi 2015. Dewan Ketahanan Pangan. Badan Ketahanan Pangan.
Kementerian Pertanian. Jakarta.

Muchtadi R. Tien, Sugiyono,
dan Ayustaningwarno, 2010. Ilmu Pengertahuan Bahan Pangan. Alfabeta. Bandung.

Suhardjo, Harper Laura Jane, Deaton Brady J dan
Driskel Judy A, 1986. Pangan, Gizi dan Pertanian. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.

 Informasi
lebih Lanjut menghubungi hp;08115405278/081393735765

PENULIS

SURASA,
S.TP.MP

SAPRIANSYAH,S.ST

ADI
MULYO.SP

SAAT