RSS
Syndicate content

KOMPONEN PILIHAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) KEDELAI

Sumber Gambar: doc.Google
1. Penyiapan lahan
Pada lahan sawah bekas tanaman padi, lahan tidak perlu diolah (TOT), jerami dapat digunakan sebagai mulsa. Jerami dihamparkan sebanyak 5 ton/ha secara merata di permukaan lahan dengan ketebalan <10 cm, gunanya untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi serangan lalat kacang, dan menekan pertumbuhan gulma.
Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman. Pada lahan kering, pengolahan tanah perlu optimal agar tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik, yaitu dua kali bajak dan satu kali garu (diratakan).
Gulma atau sisa tanaman dibersihkan pada saat pengolahan tanah.
Jika keadaan lahan masam, perlu diberi kapur bersamaan dengan pengolahan lahan yang kedua atau paling lambat seminggu sebelum tanam dengan cara menyebar rata.

2. Pemupukan sesuai kebutuhan tanaman.

Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman.
Rekomendasi umum dosis pupuk kedelai adalah 50 kg urea, 75 kg SP36, dan 100-150 kg KCl per hektar.
Pupuk diberikan dengan cara ditugal atau dilarik 5-7 cm dari tanaman, kemudian ditutup tanah, paling lambat 14 hari setelah tanam (HST).
Kedelai yang ditanam setelah padi sawah umumnya tidak memerlukan banyak pupuk.
Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N2 (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan, perhatikan waktu kadaluwarsa pupuk hayati. PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan takaran pupuk dan amelioran.

3. Pemberian bahan organik.
Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair. Kotoran sapi yang telah matang merupakan pupuk organik yang potensial digunakan pada tanaman kedelai. Pemberian pupuk organik dan pupuk kimia dalam bentuk dan jumlah yang tepat berperan penting untuk keberlanjutan system produksi kedelai.

4. Amelioran

Pada lahan kering masam, enggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan aluminium (Al) tanah dan kandungan bahan organik tanah.
Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemasaman (pH) tanah.
Lahan kering masam perlu diberi kapur pertanian (dolomite atau kalsit) dengan takaran sebagai berikut:
- pH tanah 4,5-5,3 → 2,0 t kapur/ha;
- pH tanah 5,3-5,5 → 1,0 t kapur/ha;
- pH tanah 5,5-6,0 →0,5 t kapur/ha.
Hasil kajian di desa Watu Agung, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, pengapuran menggunakan dolomit dilakukan dengan cara menyebar rata dengan dosis 1,5 ton/ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha, maka dosis kapur dapat dikurangi menjadi 750 kg/ha.

5. Pengairan pada periode kritis.
Periode kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian polong (fase reproduktif). Jika tidak ada hujan, lahan perlu diairi pada awal pertumbuhan vegetatif (15-21 HST), saat berbunga (25-35 HST), dan saat pengisian polong (55-70 HST).

6. Panen tepat waktu
Panen dilakukan saat 95% polong telah berwarna coklat atau kehitaman (warna polong masak) dan sebagian daun tanaman sudah rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang. Brangkasan kedelai hasil panen langsung dikeringkan (dihamparkan) di bawah sinar matahari dengan ketebalan sekitar 25 cm selama 2-3 hari (bergantung cuaca) menggunakan alas terpal plastik, tikar atau anyaman bambu. (Tati Purnamawati, Lampung Timur)
sumber : BPTP Lampung