RSS
Syndicate content

Budidaya Cabe Rawit

Sumber Gambar: BKPPP Kab. Nias

l. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Aceh/Nias Livelihoods Recovery Program Round-II adalah proyek dengan kegiatan pokok melakukan rehabilitasi jaringan irigasi dan meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian guna tercapainya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah proyek. Lokasi proyek berada di Kabupaten Nias dan Nias Selatan Provinsi Sumatera Utara.
Dalam pelaksanaannya Proyek Aceh/Nias Livelihoods Recovery Program Round-II disampaing peningkatan/rehabilitasi jaringan irigasi dan peningkatan produksi tanaman pangan juga dilakukan pengembangan tanaman hortikultura, diantaranya budidaya tanaman cabe melalui pembuatan demplot di lahan petani.
Cabe rawit/jemprit memiliki buah muda berwarna hijau, setelah tua berwarna merah, rasanya pedas sekali dan sangat merangsang dan merupakan salah satu jenis sayuran yang cukup penting di Indonesia. Tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi di dataran rendah sampai dataran tinggi, tetapi tidak cocok dibudidayakan pada lahan sawah karena memiliki umur yang panjang dengan masa produksi sampai 2 tahun bila dilakukan perawatan dengan baik.

1.2. Tujuan
Dengan adanya proyek Aceh/Nias Livelihoods Recovery Program Rund-II diharapkan terjadi peningkatan pendapatan petani melalui budidaya tanaman cabe rawit melaui pembuatan percontohan/demplot di lahan petani sehingga petani mengerti dan mau bercocok tanam cabe rawit yang baik sehingga pemanfaatan lahan secara optimal dapat tercapai dan terjadi peningkatan produksi.

II. BUDIDAYATANAMAN CABAI
2.1. Lingkungan Tumbuh
1. Iklim
Tanaman cabai merah tumbuh di tanah dataran rendah sampai menengah. Untuk tumbuhan yang optimal tanaman cabai membutuhkan intensitas cahaya matahari sekurang-kurangnya selama 10 -12 jam. Suhu yang paling ideal untuk perkecambahan benih cabai adalah 25 - 30 0C, sedangkan untuk pertumbuhannya 24 - 28 0C.
2. Tanah
Tanaman cabai akan tumbuh baik pada tanah yang kaya humus, subur, gembur dan terang serta pH antara 5-6. Tanaman cabai tidak tahan pada kondisi tanah yang becek karena akan mudah terserang penyakit layu dan pernafasan akar akan terganggu.

2.2. Teknologi Budidaya
1. Varietas.
Varietas cabai yang disarankan untuk dibudidayakan cabe yang berproduksi tinggi

2. Pembibitan dan penyemaian
Persemaian cabai dibuat dalam bedengan dengan ukuran lebar 1 meter dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan serta menghadap ke timur, kemudian di naungi dengan atap plastik transparan atau sisa-sisa tanaman untuk menghindari kena hujan langsung dan penyinaran yang berlebihan.
Sebelum disemai benih direndam dengan air yang dicampur Fungisida (1,5 ml/ltr) dan bakterisida 1 - 1,5 gr/l atau dengan air hangat kuku (30C - 400C) selama ± 4-6 jam. Media semai merupakan campuran tanah 2 ember : pupuk kandang 1 ember, SP-36 210 gram, Carbofurn 75 gram. Campuran media tersebut cukup untuk 300 polibag kecil. Kebutuhan benih 200 - 250 gr/ha.
3. Persiapan lahan
Pengolahan tanah pada dasarnya dimaksudkan untuk membuat lapisan tanah yang gembur dan sesuai bagi budidaya tanaman cabai. Tanah dicangkul 2 kali dan dibiarkan selama beberapa hari kemudian dibuat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 50 cm serta jarak antara bedengan 40 - 50 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan panjang lahan yang tersedia, tanah dicampur pupuk kandang matang pada saat pengolahan kedua dengan dosis 15 ton/ha.
Pengapuran dilakukan pada tanah asam (pH < 6,0) untuk menaikkan pH. Pengapuran dengan Kopsan atau Dolomit sebanyak 1-2 Ton/Ha, bersamaan dengan pengolahan tanah, yaitu juga sampai 4 minggu sebelum tanam. Setelah pupuk kandang dan kapur dicampur dengan tanah bedengan, permukaan bedengan diratakan, kemudian ditutup dengan mulsa jerami atau sisa tanaman.
4. Pemupukan
Pupuk dasar diberikan dengan dosis per tanaman ZA 25 gr, Urea 15 gr, SP-36 45 gr, KCl 25 gr, Borate 1 gr dan Carbofurn 2 gr. Pemberian pupuk diberikan pada saat tanam, fase pembentukan bunga dan fase pembesaran buah yang disesuaikan dengan fase atau pertumbuhan tanaman karena tanaman cabe rawit dapat berproduksi sampai umur 2 tahun.

 

5. Penanaman dan Pemeliharaan
Penanaman cabai sebaiknya dilakukan pada sore hari saat tanah lembab dan tidak becek. Bibit cabai sebelum ditanam dilepas dahulu dari bumbungannya dan tanah tetap utuh. Penanaman cabai secara monokultur dilakukan dengan jarak tanam bervariasi tergantung pada varietas dan tingkat kesuburan lahan akan tetapi tanaman cabe rawit akan lebih baik menggunakan jarak tanam 50 x 100 cm, sehingga dalam satu bedeng terdapat 1 baris tanaman.
Penyiraman dilakukan tiap hari pada pagi hari dan sore hari sampai tanaman cabai tumbuh normal, selanjutnya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman di lapangan. Jumlah kebutuhan air per tanaman selama pertumbuhan vegetatif; 250 ml tiap 2 hari, dan meningkat menjadi 450 ml tiap 2 hari pada masa petumbuhan generatif.
Pemupukan susulan dapat pula dilakukan dengan cara dikocor dengan NPK 16:16:16 (15:15:15) sebanyak 3-5 kg dilarutkan pada 200 liter air.
Penyulaman dilakukan segera apabila ditemukan ada tanaman muda yang mati, paling telat 14 hst agar pertumbuhan tanaman seragam.
Pada umur 8 - 20 hst dilakukan membuang tunas-tunas yang keluar dari ketiak daun dibawah cabang utama secara pelan-pelan. Disamping itu perlu diperhatikan selama pertumbuhan apabila terdapat tunas-tunas liar (wiwilan) yang tumbuh di ketiak daun atau antara cabang lama serta kelihatan subur harus segera dibuang, karena cabang tersebut tidak menghasilkan buah dan dapat menyebabkan penurunan produksi.
Pada saat tanam atau 14 hst perlu diberi ajir untuk menompang tanaman agar tidak tumbang/rebah.
6. Pemberantasan hama dan penyakitl
Hama yang sering menyerang tanaman cabe dan cara pemberantasannya :
Jenis Gejala Pengendalian
Trips Pucuk dan daun muda kering Insektisida sistemik
Tungau Pucuk daun coklat keperakan, melengkung ke bawah/gugur Semprot dengan Insektosoda sistemik, akarisida seperti : Phosvel 300 Ec & Agrothion 50 Ec dengan dosis 2 cc per liter air
Lalat buah Telur menjadi belatung di dalam buah sehingga buah membusuk Semprot Basudin 60 Ec & Lebaycide 50 Ec dengan dosis 2 cc per liter air atau Perangkap Metil Euginol & buah terserang dimusnahkan
Patek buah/ Antraknosa Buah bercendawan, berwarna pink atau hitam berbentuk bundar Jarak tanam diperlebar, sanitasi lahan, fungisida kontak dan sistemik secara teratur seperti Dithane M-45 atau Atracol dengan dosis 2 gram/liter air.
Phytophthora Tanaman layu Bedengan tinggi, varitas resisten dan fungisida
Layu bakteri Tanaman layu Varitas resisten, rotasi tananam.
Virus keriting daun atau mosaic Daun keriting Belum dapat diberantas, tanaman harus dicabut dan dibakar ditempat tertentu
7. Panen Dan Pascapanen
Panen pertama cabai rawit dapat dilakukan mulai umur 3 - 4 bulan setelah tanam. Panen dpat dilakukan 1 - 2 minggu tetapi bila pasar baik cabe rawit dapat dipanen 3 - 7 hari sekali. Sebaiknya cabe dipanen saat masak 80-90 %. Potensi hasil potensi hasil dapat mencapai 10 - 20 ton per hektar tiap tahun.
Pemanenan cabai hendaknya dilakukan pada cuaca cerah agar sisa- sisa embun yang menempel pada cabai menguap, sehingga patogen penyakit tidak dapat berkembang.
Buah cabai yang dipanen adalah yang sudah tua walaupun masih berwarna hijau, keadaan ini dicirikan oleh buah yang sudah penuh berisi dan di ujung buah tidak terdapat lagi sisa bunga yang menempel. Pemaneman cabai dilakukan dengan cara memetik atau memotong tangkai buah secara hati-hati dengan gunting kecil, agar ranting tidak parah.
Pengemasan cabai untuk pengangkutan jarak jauh yang paling baik adalah dengan menggunakan keranjang bambu yang berkapasitas 20 Kg, karena dapat menekan susut bobot dan kerusakan buah.

UNDP Indonesia
Aceh/Nias Livelihoods Recovery Programme Round II - Professional Services Contract: UNDP-018/2006
Halcrow Group Limited
in association with
PT Esti Yasagama