RSS
Syndicate content

PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI di PEDESAAN

Peran sektor pertanian nampaknya bergerak sesuai dengan proses transformasi struktural yang terjadi dalam pembangunan ekonomi umumnya. Dawam Raharjo (1984) dalam Anny Ratnawati dan Bungaran Saragih (1990), menyatakan bahwa terjadinya tranformasi struktural ini ditunjukan oleh tiga hal; (1) Sumbangan sektor pertanian secara relatif akan merosot, sedangkan sektor lain semakin besar peranannya dalam produksi nasional; (2) Mereka bekerja di sektor pertanian secara absolute jumlahnya meningkat, namun persentase dalam jumlah lapangan kerja keseluruhan akan makin kecil. Sebaliknya yang bekerja di sektor-sektor lainnya akan meningkat; dan (3) Sifat produksi di semua bidang akan juga berubah sifatnya, yaitu menjadi lebih bersifat industrial. Tantangan kedepan yang kita hadapi dalam pembangunan pertanian, adalah mempertahankan swasembada mencukupi kebutuhan pangan. Untuk mewujudkannya Kementerian Pertanian menetapkan Visi periode 2010-2014, yaitu; "Mewujudkan Pertanian Industrial Unggul Berkelanjutan yang Berbasis Sumberdaya Lokal untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan, Nilai Tambah, Ekspor dan Kesejahteraan Petani". Visi tersebut ditetapkan untuk mendukung 4 (empat) sukses pembangunan pertanian : (1) pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; (2) peningkatan diversifikasi pangan; (3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor; dan (4) peningkatan kesejahteraan petani.
Untuk mewujudkannya Kementerian Pertanian menetapkan tujuh gema revitalisasi, yaitu: 1) Revitalisasi Lahan; 2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan; 3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana; 4) Revitalisasi Sumberdaya Manusia; 5) Revitalisasi Pembiayaan Petani; 6) Revitalisasi Kelembagaan Petani; dan 7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. Tujuan akhir pembangunan pertanian (2005-2025) adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat pertanian melalui sistem pertanian industrial. Sasaran pembangunan pertanian jangka panjang: (1) terwujudnya sistem pertanian industri yang berdaya saing; (2) mantapnya ketahanan pangan; (3) terciptanya kesempatan kerja penuh bagi masyarakat pertanian; dan (4) terhapusnya kemiskinan di sektor pertanian dan tercapainya pendapatan petani US $ 2.500 per kapita per tahun. Kebijakan yang akan ditempuh oleh Kementerian Pertanian kedepan, salah satu diantaranya adalah pengembangan industri yang lebih menekankan agroindustri skala kecil di perdesaan dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani. Agroindustri dimaknai sebagai bagian dari sektor industri yang mengolah dan merubah bahan mentah hasil pertanian (pangan, serat, dan peternakan) menjadi produk antara dan produk akhir bagi konsumen. Sedangkan ruang lingkup agroindustri, meliputi; industri pengolahan hasil pertanian (tanaman pangan, tanaman perkebunan, hasil hutan, perikanan, dan peternakan), industri peralatan dan mesin pertanian (budidaya pertanian dan pengolahan), dan industri jasa sektor pertanian (perdagangan, konsultasi dan konsumsi). Pengembangan agroindustri di pedesaan harus diciptakan dan didorong terus, karena sangat berpengaruh untuk; (1) mengatasi masalah produksi bahan baku yang melimpah; (2) meningkatkan nilai tambah produk; (3) menyerap tenaga kerja; (4) meningkatkan pendapatan petani; (5) memperluas peluang pemasaran; (6) mendukung ketahanan pangan; (7) mengurangi migrasi penduduk ke kota; dan (8) menciptakan pembangunan pertanian berkelanjutan. Paling tidak ada 5 (lima) komponen yang perlu diimplementasikan secara konsisten baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, sektor swasta dan organisasi masyarakat untuk bersinergi dalam mendorong agroindustri di pedesaan ; (1) memperbaiki infrastruktur pertanian melalui fasilitasi peralatan pasca panen dan pengolahan melalui gapoktan/kelompoktani; (2) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan dalam kewirausahaan; (3) memperkuat investasi melalui fasilitasi modal kerja bergulir dengan bunga rendah dalam jangka panjang; (4) meningkatkan penerapan teknologi maju untuk menciptakan diversifikasi produk melalui pendampingan lembaga inovasi; dan (5) menciptakan peluang pemasaran, sehingga terjadi kesinambungan produksi di hulu dan hilir. Agar agroindustri dapat berkembang diperlukan proses konsolidasi seluruh bidang usaha baik secara vertikal maupun horizontal, yaitu adanya keterkaitan antara hulu dan hilir dalam suatu kelompok usaha.
Ada 6 (enam) komponen yang perlu diperhatikan, yaitu; (1) menumbuhkan kelembagaan kelompok usaha yang mandiri dan terorganisir; (2) menciptakan keterpaduan sistem produksi di tingkat on farm (pengolahan) dan off farm (budidaya); (3) menumbuhkan penerapan teknologi modern yang padat karya; (4) melakukan koordinasi lintas sektoral di tingkat lapangan, sehingga lebih fokus dalam pembinaan; (5) pengembangan sumberdaya manusia berjiwa bisnis tangguh; dan (6) memberikan fasilitasi dan akses permodalan dengan bunga rendah dalam jangka panjang. Agroindustri di perdesaan saat ini menghadapi berbagai tantangan dan kendala; (1) adanya perubahan ekonomi global yang dapat mempengaruhi iklim investasi yang berakibat naiknya suku bunga perbankan; (2) sulitnya menembus pasar ekspor, karena kondisi pasar global yang relatif stagnan dan persaingan produk yang ketat; (3) perkembangan bio teknologi dan teknologi informasi yang sangat pesat; dan (4) meningkatnya kepedulian konsumen terhadap lingkungan, kesehatan manusia, dan nutrisi produk olahan. Sehingga dapat melemahkan agroindustri tersebut. Agroindustri harus dapat menjalankan usahanya secara efisien, meningkatkan daya saing produk, agar dapat tumbuh dan berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan petani, upaya pengembangan agroindustri menjadi pilihan yang strategis. Baharsjah S. (1989) dalam Anny Ratnawati dan Bungaran Saragih (1990), mengatakan bahwa dalam pengembangan agroindustri perlu didasarkan prinsip keunggulan komparatif, tingkat ketrampilan masyarakat lokal dalam memantapkan jenis industri pengolahan yang dikenal di lingkungannya, tersedianya bahan baku berkesinambungan, fasilitas kredit dengan bunga ringan dan tersedianya prasarana dan fasilitas pelayanan di pedesaan.
Pengembangan industri pengolahan hasil pertanian berfungsi mengurangi beban tekanan penduduk dan tenaga kerja di sektor pertanian dan mengalihkannya pada kegiatan non pertanian, mendorong pertumbuhan perdesaan dengan mengdiversifikasikan sumber pendapatan, serta meningkatkan dampak pertumbuhan permintaan didalam dan atau diluar suatu daerah. Peningkatan pendapatan mendorong tingkat permintaan dari produk agroindustri yang disisi lain juga akan mendorong perkembangan sektor pertanian dalam hal penyediaan produk berkualitas dan kuantitas yang lebih besar. Agroindustri menurut faktor-faktor yang menyebabkan industri yang bersangkutan berlokasi di pedesaan; (1) Industri yang mengandalkan pasaran lokal, yaitu lokasi dari berbagai jenis produk kerajinan tradisional untuk penggunaan sehari-hari (2) Industri yang berdasarkan sumberdaya (bahan baku) lokal, yaitu berbagai industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri hilir); (3) Industri yang mengandalkan tenaga kerja yang murah. Pengembangan agroindustri diperlukan peningkatan kemampuan pedesaan untuk usaha pengembangan agroindustri itu sendiri, meliputi; (1) peningkatan kualitas SDM/ketrampilan tenaga kerja, melalui program diklat; (2) Pengembangan dan penyebaran teknologi tepat guna yang bertujuan meningkatkan produktivitas atau mutu produk yang dihasilkan; (3) Perbaikan dan penyediaan fasilitas perkreditan; (4) Penyediaan jasa-jasa informasi (misalnya peluang pemasaran, dan disain-disaian baru); dan (5) Pengembangan infrastruktur pedesaan (transportasi, koperasi, pasar, tempat-tempat pergudangan, dan lain-lain). Pengertian industri pertanian (Agroindustri) disini tidak semata-mata berarti mendirikan pabrik-pabrik. Makna fundamental agroindustri adalah membangun sikap mental dan budaya sebagaimana yang hidup di masyarakat industri. Kebudayaan industrial dengan ciri-ciri; (1) Pengetahuan merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan (bukan intuisi atau kebiasaan saja);(2) Kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya; (3) Mekanisme pasar merupakan media utama dalam transaksi barang dan jasa; (4) Efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumberdaya dan efisiensi dalam penggunaan sumberdaya; (5) Keunggulan mutu merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan;(6) Profesionalisme merupakan karakter yang menonjol; dan (7) Perekayasaan menggantikan ketergantungan pada alam, sehingga setiap produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam mutu, jumlah, berat, volume, bentuk, ukuran, warna, rasa, dan sifat-sifat lainnya.
Di masa mendatang, agroindustri dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional, ada 5 (lima) antara lain; (1) Industri pengolahan mampu mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif, memperkuat daya saing produk; (2) Produk agroindustri memiliki nilai tambah dan pangsa pasar besar, yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional/daerah; (3) Agroindustri memiliki keterkaitan yang besar baik ke hulu maupun ke hilir, sehingga memacu kemajuan sektor lain; (4) Memiliki basis bahan baku lokal (keunggulan komparatif), sehingga terjamin keberlanjutannya; dan (5) Berpeluang mengubah struktur ekonomi nasional/daerah dari pertanian ke industri. Pengembangan agroindustri belum mencapai sasaran, karena masih banyak kendala ; (1) rendahnya jaminan ketersediaan dan mutu bahan baku; (2) mutu produk agroindustri belum mampu memenuhi persyaratan pasar; (3) SDM belum profesional; (4) sarana dan prasarana belum memadai; (5) teknologi pengolahan belum berkembang; (6) sumber pendanaan masih kecil; (7) pemasaran belum berkembang; dan (8) belum ada kebijakan riil yang mampu mendorong berkembangnya agroindustri. Revitalisasi pertanian melalui industrialisasi perdesaan pilihan strategis menggerakkan roda perekonomian, pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan,serta meningkatkan kesejahteraan petani. Kemampuan yang tinggi dari agroindustri dalam penyerapan tenaga kerja, yang padat karya dan bersifat massal. Ada 6 (enam) skala prioritas pelajaran agroindustri dari Thailand. Kata orang Muangthai, Agroindustri tidak berarti apa-apa jika tidak dikendalikan oleh kearifan lokal yang mengakar, berkembang dan menjadi basis kekuatan masyarakat pedesaan. Beberapa pelajaran agroindustri dari Negeri Gajah, antara lain : (1) Konsistensi pembangunan agroindustri. Kebijakan pembangunan diawali dengan komitmen yang kuat dan diprakarsai oleh Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Perencanaan pembangunan dilakukan secara holistik dengan pelaksanaan secara spesifik/ kecil dan berkesinambungan. Produk berbasis pertanian diusahakan secara komersial dengan bantuan pihak terkait; (2) Keterlibatan dan partsipasi berbagai kalangan, termasuk kelompok masyarakat pedesaan dalam pengambilan keputusan; (3) Usaha mikro, kecil dan menengah adalah andalan dalam memasarkan produk hasil olahan masyarakat; (4) Pemanfaatan ilmu pengatahuan dan teknologi; (5) Faktor kepemimpinan yang menerapkan prinsip arif dan bijaksana. Kesimpulannya; (1) Agroindustri merupakan prioritas pengembangan industri mengingat sumber penghidupan mayoritas petani dari sektor pertanian menuju industrialisasi; (2) Interaksi antara tingkat pendapatan petani dan tingkat permintaan masyarakat ;dan (3) Bentuk interaksi aspek kelembagaan akan menentukan agroindustri berkembang baik dapat meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat pedesaan.

MARUKIN,SP. (Penyuluh Pertanian pada Kelompok Jabatan Fungsional pada Dinas
Pertanian Daerah Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur)