RSS
Syndicate content

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BALI DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Sumber Gambar: Dok.: Widiada
Masyarakat Bali yang memiliki adat istiadat dan budaya yang unik, adalah sarat dengan konsep pelestarian lingkungan hidup yang diwujudkan dalam kehidupan bersama, dimana memandang alam bukan sebagai obyek yang harus ditaklukan atau diekploitasi semata-mata untuk kepuasan duniawi, tetapi alam semesta adalah bagian dari kehidupan dan merupakan sumber penghiupan yang harus dijaga dan dipelihara kelestariannya.
Konsep pemeliharaan lingkungan hidup yang diterapkan dalam kehidupan bersama dalam masyarakat Bali yang erat kaitannya dengan pemeliharaan kelestarian lingkungan pada pokoknya terdiri dari dua hal, yaitu Tri Hita Karana, yaitu tiga hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan sesama manusia dan antara manusia dengan alam semesta, dan Sad Kertih yaitu merupakan enam konsep masyarakat Bali dalam memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan secara keagamaan. Tiga hal dalam Tri Hita Karana meliputi tiga unsur yaitu :
a. Praja Pati, yaitu merupakan manifestasinya Tuhan sebagai raja kehidupan, yang diwujudkan dalam bentuk disetiap pekarangan maupun disetiap desa pakraman di Bali selalu disiapkan tata ruang khusus tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dan tempat ini disebut Parhyangan(pura/Pemerajan);
b. Praja, yaitu manusia sebagai makluk sosial, senantiasa harus selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan sesamanya. Berkaitan dengan ini di Bali Dikenal istilah Paras Paros yaitu dinamika dalam kebersamaan.
c. Kamandhuk, yaitu alam semesta yang merupakan sumber kehidupan senantiasa harus dijaga dan dipelihara supaya selalu meningkat kualitasnya dan tetap lestari. Konsep masyarakat Bali memandang alam lingkungan merupakan satu kesatuan antara Tuhan sebagai pencipta (Praja Pati), manusia dan alam semesta sebagai ciptaanNya.
Sedangkan Sad Kertih, merupakan konsep masyarakat Bali untuk memperbaiki dan memelihara kualitas lingkungan secara keagamaan yang meliputi 6 komponen yaitu :
a. Wana Kertih, adalah suatu konsep wawasan mengenai fungsi hutan yang sangat luas dan komplek. Demikian banyak dan pentingnya fungsi hutan seperti, mengatur tata air (hidroorologis), menjaga ekositem dan menyediakan berbagai tumbuhan dan kayu untuk berbagai kebutuhan hidup. Dalam tradisi masyarakat Bali dikenal beberapa jenis hutan sesuai peruntukannya yaitu:
* Alas Angker , yaitu hutan Tutupan/hutan lindung yang tidak boleh diutak-atik;
* Alas Kekeran, yaitu hutan yang diperuntukan untuk melindungi suatu kawasan suci atau tempat pemujaan umat (hutan milik pura/ adat);
* Alas Rasmini, Yaitu hutan produksi, yang bisa diambil kayunya tetapi harus tetap memperhatikan kelestariannya;
* Alas Arum, yaitu merupakan kawasan penyangga atau kawasan budidaya (agrowisata);
Aplikasi dari konsep Wana Kertih yaitu upacara Mepekelem (korban suci/yadnya), di gunung/hutan yang bermakna menumbuhkan rasa cinta dan selalu menjaga kelestarian hutan.

 

b. Samudra Kertih, yaitu konsep pemahaman kawasan kesamudraan atau kawasan maritim. Laut dipandang sebagai sesuatu yang sangat keramat dan merupakan sumber kehidupan. Karena adanya laut akan menimbulkan hujan, merupakan tempat hidup flora dan fauna dan menciptakan iklim yang kondusip bagi kehidupan, maka senantiasa harus dijaga kebersihannya jangan sampai tercemar. Hal ini di aplikasikan dalam kehidupan beragama oleh masyarakat di Bali dengan upacara Mapekelem, yang mempunyai makna memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Dewa Bharuna sebagai penjaga samudra, semoga kehidupan di laut berjalal dengan baik.
c. Danu Kertih, yaitu konsep menumbuhkan wawasan untuk memahami fungsi sumber mata air seperti danau, sungai, kolam/empang dan lainnya. Air merupakan sumber kehidupan yang mengalir dari gunung dan tertampung di danau, mengalir lewat mata air dan sungai. Oleh karena itu senantiasa harus dijaga kelestariannya jangan sampai kering atau tercemar. Hal ini direalisasikan dalam bentuk upakara yang disebut Mulang Pekelem di danau. Tujuannya jangan sampai ada yang secara sengaja/tidak sengaja merusak dan mencemari kelestarian danau, mata air, sungai dan sumber mata air lainnya.
d. Jagat Kerti, yaitu konsep menumbuhkan wawasan untuk selalu hidup harmonis dan dinamis dalam kehidupan bersama dalam masyarakat (paras paros selulung sebayantaka).
e. Jana Kertih, yaitu merupaka motivasi untuk selalu menjaga dan menciptakan suasana hati yang harmonis dalam diri sendri.
f. Atma Kertih, yaitu membangun kondisi dimana setiap orang mampu mengeksistensikan kesucian atmannya, sebagai unsur yang paling suci dalam dirinya.
Demikian konsep pemeliharaan kelestarian lingkungan pada masyarakat Bali pada prinsipnya sudah ditanamkan sejak dahulu (Oleh : Md Suyasa, Penyuluh Kehutanan BP3K Kec. Kediri Kabupaten Tabanan ).