RSS
Syndicate content

Diklat Sertifikasi Profesi Penyuluh Pertanian di BPP Lampung

D

Diklat
Sertifikasi Penyuluh Pertanian di BPP Lampung diselenggarakan 16 - 23 Oktober
2011 dan diikuti oleh 30 orang Penyuluh Pertanian yang berasal dari Propinsi
Jawa Barat 15 orang, Banten 2 orang, Lampung 7 orang, Sumatera Selatan 5 orang
dan Bengkulu 1 orang. Diklat dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Pelatihan
Pertanian pada Ahad malam, 16 Oktober 2011. 

Selama
empat hari, Penyuluh Pertanian yang terdiri dari 14 orang level Fasilitator dan
16 orang Supervisor menerima materi yang disampaikan oleh :  Kepala
Pusat  Pendidikan Stardisasi dan Sertifikasi Penyuluh Pertanian dan
Widyaiswara BPP Lampung.  Adapun materi antara lain berisi :

1).    Kebijakan
Pelatihan Penyuluhan Pertanian,   2).
    Kebijakan
Sertifiksasi Jabatan Fungsional Penyuluhan Pertanian 3).
    Menyiapkan
Penyuluhan Pertanian (Mengumpulkan dan mengolah data potensi wilayah serta
 Menyusun
Programa Penyuluhan Pertanian), 4).
   
Melaksanakan Penyuluhan Pertanian
terdiri dari (a)
   Membuat materi Penyuluhan Pertanian (b)   Membuat
dan menggunakan metode Penyuluhan Pertanian,  (c)
   Menerapkan
Metode Penyuluhan Pertanian, dan (d) Menumbuhkembangkan kelembagaan petani. 5).
    Mengevaluasi
Penyuluhan Pertanian yang terdiri dari (a).
    Mengevaluasi
Penyuluhan Pertanian dan (b).
   Mengevaluasi Dampak Penyuluhan Pertanian. 6).    Mengembangkan
Penyuluhan Pertanian dalam bentuk  Melakukan Pengembangan Keprofesian
Penyuluh Pertanian (misalnya menulis karya tulis ilmiah, membuat saduran dan
sebagainya). 

Kemudian
pada hari kelima (hari Jum'at), dimulai asesmen  lanjutan oleh Tim Asesor
yang terdiri dari bapak Cucuk Redono, SP, MP dan Ir. Asep Adinata, MP hingga
hari  keenam (Sabtu) yang menguji kompetensi Inti ( 8  unit
kompetensi untuk level Fasilitator dan 9 unit kompetensi untuk Supervisor) dan
kompetensi khusus ( 1 unit kompetensi untuk level fasilitator dan 2 unit
kompetensi untuk supervisor).

Secara
umum, kegiatan dapat diikuti oleh dengan lancar oleh 30 orang penyuluh sebagai
asesi, walau diwarnai dengan kecemasan karena kekurangsiapan Barang Bukti
(Bar-buk) yang dibawa asesi menghadap dan wawancara dengan asesor. 
Hanyasaja, tidak ada satupun penyuluh yang membawa kamera sehingga tidak dapat
mendokumentasikan "acara" bersejarah tersebut.