RSS
Syndicate content

Anak-anak Sapi Limousin dan Simental hasil Inseminasi Buatan di Nunukan

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Ditengah-tengah situasi mahalnya harga daging sapi, Peternak Nunukan mulai tersenyum dan optimis. Hal ini setelah melihat sapi-sapi peliharaannya berhasil melahirkan anak-anak sapi dari jenis yang berbeda dari biasanya. Kali ini anak-anak sapi hasil Inseminasi Buatan (IB) yang dilahirkannya tampak lebih menggairahkan, karena cepat pertumbuhannya, baik ukuran tinggi badan, berat badan dan bulu-bulunya yang tampak lebih tebal dan indah. Yang lebih meyakinkan lagi bagi peternak, karena warna bulunya yang sangat berbeda dengan anak-anak sapi tahun sebelumnya. Simental ada warna putih di bagian muka gelambir perut dan ekornya, sedangkan Limousin warna merah bata seluruhnya.

Petani-peternak di Nunukan sangat tertarik melihat anak sapi keturunan Simental maupun Limousin hasil IB. Beberapa peternak sempat terheran-heran, karena baru kali ini mengenali anak sapi jenis Simental dan Limousin. Warna bulu bagian muka, gelambir, perut sampai bagian duduk ekor dan pantatnya berwarna putih. Pak Lampe peternak yang tinggal di Sekitar Lapas sekarang telah memiliki 5 ekor anak sapi turunan Limousin dan Simental yang umurnya sudah sekitar 4 bulan. Dilihat dari pertumbuhannya memang terlihat Sapi Jenis Limousin dan Simental lebih cepat dibanding sapi Bali.

Saat ini kebutuhan daging di Nunukan selain dari hasil pemotongan RPH dan swasta di Nunukan, juga masih banyak yang datang dari Tawau Sabah Malaysia, karena masih kurangnya stok daging yang dibutuhkan masyarakat.

Pemerintah daerah kabupaten Nunukan juga telah beberapa kali menggelontorkan program pengembangan ternak sapi dengan system gadoh, mengingat tingginya permintaan masyarakat petani-ternak yang menginginkan ada bantuan induk ternak melaui system gadoh.

Pola budidaya ternak sapi yang ada di Nunukan ada yang digembalakan pada siang hari, ke semak-semak yang ada di lingkungan dan dikandangkan pada malam harinya. Ada pula yang di ikat dan selalu dipindah-pindah tempatkan, dari satu tempat ke tempat lain yang ada tumbuh rumput makanan sapi secara alami. Namun ada juga yang sudah mulai membuat kandang, dengan ukuran 6 X 8 meter dengan pola atap seng berlantai semen cor. Baik yang biaya dari swadana maupun ada yang mendapat subsidi dari kegiatan yang didanai APBD. Sedangkan pakannya di ambil dari hasil pengembangan rumput king gress dan sektaria yang telah ditanam sebelumnya. Kegiatannya selalu didampingi pembinaan penyuluh peternakan maupun instansi Dinas Pertanian dan Peternakan. Sedangkan Badan Ketahanan pangan dan Pelaksana penyuluhan berperan mengarahkannya melalui kegiatan Penyuluh Pertanian/Peternakannya.

Saat ini inseminator yang selalu siap melayani permintaan IB di Nunukan baru ada 2 orang yaitu Nirwana, S.Pt. Penyuluh Peternakan kabupaten dan Andika Dwi Purwanto THL TBPP yang senantiasa stanby memberikan pelayanan pemahaman kepada paternak untuk pemeliharaan ternak sapinya.

Dengan program pengembangan ternak melalui IB, harapan kita di tahun 2018 kita sudah bisa swasembada daging sapi secara mantap. Untuk itulah maka pihak BKP3D Kab. Nunukan berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat peternak melalui penyuluhan dan pelayanan IB yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Nunukan, inseminatornya dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Daerah (BKP3D) dan strawnya dari Dispertanak Kab. Nunukan.

 

H. Heru Wihartopo, S.PKP.

Koordinator Jafung Penyuluh BKP3D Kab. Nunukan