RSS
Syndicate content

Hama dan penyakit

Pengendalian Fisik dan Pestisida Selektif

Sumber Gambar: http// www. Deptan. go.id
Pengendalian fisik dan mekanis, bertujuan untuk mengurangi populasi OPT, mengganggu aktifitas fisiologis OPT yang normal serta mengubah lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai alat / bahan termasuk tangan - tangan kita, taktik yang digunakan antara lain membinasakan dengan tangan / alat, memagari tanaman, penggunaan pengisap, alat perangkap dan sebagainya.

Pengendalian Almi dan Ekosistem Padi Hibrida

Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah suatui cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.

Blas

Sumber Gambar: http://www.cvmgm.com
Pada umumnya penyakit blas menginfeksi tanaman padi hibrida pada setiap fase pertumbuhan. Gejala khas pada daun yaitu bercak berbentuk belah ketupat - lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya. Ukuran bercak kira - kira 1-1,5 x 0,3 - 0,5 cm berkembang menjadi bewarna abu -abu pada bagian tengahnya. Daun - daun varietas rentan bisa mati. Bercak penyakit blas sering sukar dibedakan dengan gejala bercak coklat Helminthosporium.

Hawar Daun Bakteri / BLB / Kresek

Sumber Gambar: http://bengkulu.litbang.deptan.go.id
Keadaan iklim yang kurang baik misalnya terjadi hujan terus - menerus yang mengakibatkan terjadinya kelembaban yang sangat tinggi dan terjadinya genangan air sampai menutupi batang padi. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan penyakit dan bakteri akan cepat berkembang, begitu juga hawar daun bakteri akan cepat berkembang menyerang tanaman padi jika tidak diantisipasi sedini mungkin.

Tikus

Sumber Gambar: www.google.go.id
Hama padi yang umum terjadi di lapangan adalah hama tikus, tikus pada umumnya memakan batang padi baik yang masih muda ataupun yang sudah besar/tua dan memakan butir padi juga. Tetapi pada umumnya padi yang sering hama tikus adalah padi yang masih tahap pertumbuhan yaitu sebelum terbentuknya malai. Salah satu yang dapat mencegah serangan hama tikus adalah dengan jalan membersihkan rumput atau gulma di sekitar tanaman padi bahkan daerah tanggul atau daerah sekitar lingkungan tanaman padi tersebut harus bersih sehingga tempat berkembang biakan tikus tidak ada.

Wereng Coklat dan Penggerek Batang Padi

Sumber Gambar: http://ntb.litbang.deptan.go.id
Wereng Coklat
Wereng merupakan hama utama padi hibrida dan mejadi hama penting apabila pengelolaan ekosistem di awal pertumbuhan tanaman tidak dilakukan dengan baik akibat penggunaan pestisida tidak mengikuti kriteria 6 (enam) tepat sehingga membunuh musuh alami. Pertanaman yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat merupakan kondisi yang sangat disukai wereng.

Masalah Pengembangan Padi Hibrida di Indonesia

Salah satu keunggulan padi hibirda adalah produksi cukup tinggi yaitu rata -rata produksinya di atas 10 ton / ha, bahkan varietas hibrida tertentu dengan lahan subur dan perlakuan budidaya yang baik akan menghasilkan produksi yang cukup tinggi misalnya produksi di atas 12 ton/ha. Tetapi yang menjadi maslah dengan padi hibrida adalah sangat peka atau peka terhadap serangan penyakit tungro atau wereng.

Pengendalian Tungro, Tanam Tidak Serentak Dengan Perlakuan Khusus

Pengendalian tungro dapat dilakukan dengan tanam tidak serentak dalam satu hamparan yang tidak melebihi 50 % dari luas lahan tersebut, tetapi dilakukan perlakuan khusus seperti penggunaan varietas tahan, manitorong ancaman, pengendalian hayati, tanam legowo, monitoring ancaman tanaman muda, pengendalian kuratif, pemencaran vektor dan perbaikan pola tanam. Secara rinci akan dijelaskan di bawah ini

Pengendalan Tungro Dengan Waktu Tanam Yang Tepat dan Antisipasi

Pengendalian tungro oleh para petani di lapangan dapat dilakukan dengan cara waktu tanam yang tepat dan antisipasi serangan tungro dengan konsevasi musuh alami, monitoring ancaman, tanam sistem legowo, pengendalian insektisida, mengurangi pencemaran vektor dan pola tanam yang baik. Secara rinci perlakuan tersebut di atas akan dijelaskan di bawah ini :

Pengendalian Tungro Dengan Tanam Serentak Dengan Perlakuan Sama

Usahakan hamparan sawah yang sama pada luasan 20 ha dilakukan pertanaman yang serentak sehingga dijumpai stadia tanaman yang hampir seragam. Sumber serangan adalah tanaman musim sebelumnya yang terinfeksi virus pada saat tanaman umur 45 - 60 hst dengan intensitas serangan lebih dari 1 %. Sumber migran dapat dari lapangan yang bersangkutan dan atau dari hamparan, baik dari dalam petakan maupun galengan yang ditumbuhi rerumputan dan terdapat spesies wereng hijua lainnya selain N.virescens terutama N. nigropictus