RSS
Syndicate content

Materi Bidang Hortikultura

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN PISANG HIAS (HELICONIA)

Sumber Gambar: www.google.com
Sasaran produksi heliconia tahun 2014 yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Hortikultura yaitu sebesar 7.802.843 tangkai. Jumlah ini meningkat dibandingkan sasaran tahun 2013 sebesar 7.327.302 tangkai. Salah satu masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman pisang hias (heliconia), yaitu terjadinya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), baik berupa hama maupun penyakit.

PERAN PETANI DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

Sumber Gambar: www.google.com
Petani sebagai pelaku utama dalam pembangunan pertanian memiliki berbagai peran strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan pertanian itu sendiri. Beberapa perannya tersebut diuraikan secara singkat di bawah ini:
1. Sebagai kontaktani

SERI PASCA PANEN KUBIS: PERLAKUAN SEGERA SETELAH PANEN

Sumber Gambar: www.google.com

Guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor, Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Hortikultura menetapkan sasaran produksi kubis (kol) secara nasional pada tahun 2013 sebesar 1.407.400 ton dan 1.414.900 pada tahun 2014. Sebaran sasaran produksi terbesar terdapat di tiga provinsi, yaitu di Provinsi Jawa Tengah sebesar 390.000 ton (2013) dan 392.100 ton (2014); Provinsi Jawa Barat sebesar 291.300 ton (2013) dan 292.800 ton (2014); kemudian disusul oleh Provinsi Sumatra Utara sebesar 199.900 ton (2013) dan 201.000 ton (2014).

SERI PASCA PANEN KUBIS: PENGANGKUTAN

Sumber Gambar: www.google.com

Pengangkutan merupakan salah satu operasi pasca panen yang ditujukan untuk mengamankan produk dari kerusakan fisik, mekanis dan biokimiawi, serta untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Pengangkutan dilakukan dengan memperhatikan sifat/karateristik produk, alat/sarana pengangkutan yang digunakan.

SERI PASCA PANEN KUBIS: PEMBERSIHAN, PEROMPESAN (TRIMMING) DAN PENGKELASAN (GRADING)

Sumber Gambar: www.google.com
Dalam rangka pengembangan produk sayuran yang bermutu dan berdaya saing di pasar domestik dan internasional, selain penerapan budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices/GAP), juga diperlukan penanganan pasca panen yang baik dan benar (Good Handling Practices/GHP). Untuk itu telah ditetapkan Panduan GHP yang selanjutnya dijabarkan kedalam instruksi kerja atau Standar Operating Procedures (SOP). Penerapan SOP berbasis GHP ini bersifat spesifik komoditas, spesifik lokasi, serta disesuaikan dengan permintaan pasar.

SERI PASCA PANEN KUBIS: PENDINGINAN PENDAHULUAN (PRECOOLING)

Sumber Gambar: www.google.com
Guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor, Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Hortikultura menetapkan sasaran produksi kubis (kol) secara nasional pada tahun 2013 sebesar 1.407.400 ton dan 1.414.900 pada tahun 2014. Sebaran sasaran produksi terbesar terdapat di tiga provinsi, yaitu di Provinsi Jawa Tengah sebesar 390.000 ton (2013) dan 392.100 ton (2014); Provinsi Jawa Barat sebesar 291.300 ton (2013) dan 292.800 ton (2014); kemudian disusul oleh Provinsi Sumatra Utara sebesar 199.900 ton (2013) dan 201.000 ton (2014).

SERI PASCAPANEN KUBIS: PENGEMASAN

Sumber Gambar: www.google.com
Sebagaimana diketahui, sejauh ini pengemasan (pengepakan) produk sayuran masih jarang dilakukan secara baik, sehingga banyak menyebabkan kerusakan produk pascapanen. Untuk itu, upaya mempromosikan perlakuan-perlakuan dalam pengemasan (pengepakan) produk sayuran, termasuk penggunaan keranjang pasca panen, dewasa ini sedang giat-giatnya dilaksanakan melalui penyuluhan yang intensif.

SERI PASCA PANEN KUBIS: SORTASI

Sumber Gambar: www.google.com
Dalam rangka pengembangan produk sayuran yang bermutu dan berdaya saing di pasar domestik dan internasional, selain penerapan budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices/GAP), juga diperlukan penanganan pasca panen yang baik dan benar (Good Handling Practices/GHP). Untuk itu telah ditetapkan Pandua n GHP yang selanjutnya dijabarkan kedalam instruksi kerja atau Standar Operating Procedures (SOP). Penerapan SOP berbasis GHP ini bersifat spesifik komoditas, spesifik lokasi, serta disesuaikan dengan permintaan pasar.